Kenangan yang membekas

Saya kelewat keras kepala mengira semuanya baikbaik saja. Berapa senja lagi yang harus saya lewati, tanpamu?

Kenyataannya saya saat ini hidup di kota dengan segala keruwetannya, dengan segala hal yang membikin saya (semakin) sakit. Saya tidak tangguh: saya terlalu banyak bermimpi dan terlalu takut terbangun. Saya kalah. Saya sekarang mengerti bahwa luka tidak ada hubungannya dengan seberapa kasar cara seseorang menyakiti, namun selembut apa ia meleleh meninggalkan bekas di dalam sini. Luka yang sempurna.

Kepulan asap tipis mengambang di udara. Menjelma kelopakkelopak putih samar bak pecahan jantung yang pergi dan tidak kembali.

Puan betina, kamu mungkin setuju dengan ini: “Dalam kehidupan setiap lelaki hanya ada satu perempuan, dan bersama perempuan itu ia menjadi lengkap. Dalam kehidupan setiap perempuan hanya ada satu lelaki, dan dengan lelaki itu ia menjadi sempurna. Namun pasangan kekasih yang demikian hanya ada satu dalam jutaan kisah romansa. Sisanya hanya pasanganpasangan hasil dari daya tarik fisik, ketertarikan dangkal, kompromi, perjodohan orangtua, atau sekadar kebiasaan.

Uap panas dari secangkir kopihitam mulai menipis ketika senja berbalik arah menuju pulang pada bayangbayang malam yang selalu saja bergumam tentang hati manusia yang kelam. Sayang, berapa senja lagi yang harus saya lewati tanpamu? {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s