Unta, kupukupu, anak-anak

Friedrich Nietzsche.
Friedrich Nietzsche.

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta: sebentar lagi bakal ada perayaan, Ray!

Manusia adalah suatu hal yang harus dilampaui!” kata Zarathustra. Apa yang dimaksud oleh Zarathustra ketika berkata seperti itu? “Melampaui manusia”? Mungkin Zarathustra sudah muak dengan manusia, Ray. Dan jika memang seperti itu, Zarathustra sebenarnya mirip dengan kita — saya, kamu, kalian, dan mereka. Perasaan dan pengalaman kita sendiri sebagai manusia telah menciptakan kemuakan terhadap manusia, khususnya ketika kita menyaksikan tingkah manusia yang brutal dan menjijikkan saat sedang berebut — dan mempertahankan — kekuasaan.

Manusia memang menjijikkan, Rayna sayang, terlebih ketika mereka sedang bergabung bersama membentuk massa dan bertindak semena-mena. Barangkali itulah alasan mengapa manusia harus “dilampaui” menurut pemikiran Zarathustra.

Zarathustra beranggapan bahwa keburukan manusia bukan terletak pada moralnya atau pada kekerasannya atau juga pada kebrutalannya, melainkan pada kecenderungannya untuk berkumpul, yaitu penyakit ikut-ikutan — kebersamaan primordial mereka, di mana semua itu menenggelamkan manusia dalam ketidak-sadaran massal.

Rayna, sayang. Moralitas yang bagi kebanyakan orang — bila tidak ingin menyebut semuanya — adalah suatu hal yang indah, justru dianggap tidak bermakna oleh Zarathustra karena pelaksanaannya bertumpu pada keseragaman bagi semua orang dan memaksakannya kepada siapa saja yang tidak memiliki pendirian selain hanya untuk mencari keselamatan dari ancaman hukuman.

Jadi, Ray, setiap orang harus mulai berani berpikir sendiri dalam mengkreasikan hidupnya, dan itulah yang dimaksudkan oleh Zarathustra — harapan Zarathustra. Manusia, menurut Zarathustra, hanyalah sekadar kawanan domba yang digembalakan dengan tongkat moral universal absurd oleh sang gembala yang menuntun mereka untuk bertindak secara seragam, memaksa mereka tunduk pada aturan norma dan moralitas seragam yang terlampau konyol.

Bagi Zarathustra, tidak ada kepentingan untuk mempertentangkan antara moral dan immoral. “Buruk/baik” atau “salah/benar” tidak seharusnya diukur dalam pengertian kebersamaan sosial atau norma universal. Persoalannya bukan terletak pada kepentingan untuk menentukan ada atau tidak adanya moralitas, melainkan pada keberanian manusia menerima hidupnya (amor fati!) yaitu manusia yang tidak perlu cengeng menangisi/menyesali “dosa-dosanya”. Sebab “dosa” merupakan buah dari perbuatan manusia itu sendiri, jadi kenapa harus ditangisi/disesali?

Zarathustra menganggap “dosa” itu tidak ada jika manusia mau menerima dirinya sendiri sebagai “tuan” yang berkuasa penuh atas hidupnya sendiri. Zarathustra juga menekankan agar manusia tidak bermimpi tentang “surga” di masa depan yang seolah sudah pasti ada dan nyata. Impian konyol inilah yang menjadi sumber kesengsaraan dan kekerdilan manusia sehingga mereka telah kehilangan sesuatu yang bernama kehidupan, Ray. Zarathustra tidak mengajarkan untuk “menolak” moralitas, tetapi “melampauinya” (untuk kemudian “meniadakannya”). Beyond good and evil.

Pemikiran Zarathustra itu menjelaskan bahwa sudah seharusnya manusia tidak menyandarkan hidup mereka pada hukumhukum moral, melainkan pada cinta yang menggerakkan kehidupan. Zarathustra mengajak kita — para manusia — untuk tetap berdiri dengan kaki sendiri karena tidak ada “yang ilahi” — tuhan telah mati dan bangkainya telah lama membusuk, Ray sayang. Menurut Zarathustra, dosa (dan pahala) bukannya hilang tetapi memang tidak ada sedari awal.

Rayna, sayang. Seperti yang saya tulis di atas, Zarathustra sudah muak dengan manusia dan untuk itulah harus “dilampaui”. Zarathustra benci melihat kumpulan manusia dalam keseragaman sikap moral mereka. Namun di sisi lain, Zarathustra seolah juga merasa iba dan penuh pengertian ketika dia berkata bahwa sebenarnya keburukan manusia bukanlah hal yang patut untuk dibenci. Manusia, bagi Zarathustra, adalah proses kemenjadian yang belum selesai, masih dalam perkembangan yang tidak bakal pernah berhenti.

Hal tersebut ditunjukkan Zarathustra dalam pandangannya terhadap orang tua yang setia pada moral keagamaan. Kesetiaan orang tua tersebut pada agama memang merupakan ketertundukan yang merupakan ciri khas dari “moral budak” atau “moral rombongan” untuk mengikuti perintah tuhan (yang telah mati dan bangkainya telah lama membusuk). “Moral budak” ini sudah lama tertanam dalam sejarah manusia, diajarkan secara turun-menurun oleh nenek moyang manusia. Namun Ray sayang, bagi Zarathustra hal itu tampaknya bukanlah kesalahan melainkan hanya petunjuk adanya kebodohan. Tampaknya bukan pribadi orangnya secara personal yang dibenci oleh Zarathustra, melainkan manusia dalam arti spesies rombongan.

Unta, kupukupu, dan anak-anak
Rayna, sayang. Jiwa manusia rombongan diumpamakan Zarathustra seperti unta yang suka menuruti perintah untuk tunduk dan berlutut agar punggungnya bisa diberi bebanbeban berat (perintah dan larangan moral dan agama). Itulah gambaran manusia menurut Zarathustra: makhluk penurut yang harus dilampaui.

Ketahuilah Ray bahwa dunia ini tidak bakal pernah sempurna. Bagi Zarathustra, dunia ini menjemukan yang berisi manusiamanusia yang juga menjemukan dan memuakkan pula, hal ini tidak akan pernah usai. Kebrutalan sudah ada sejak dulu, dan sampai saat ini belum menunjukkan tandatanda bakal berhenti dan menghilang (hal ini mungkin akan bertahan hingga nanti saya dan kamu mati, Ray). Satu rezim babi diganti dengan rezim babi lainnya tidak bakal pernah membawa kita kepada kehidupan yang lebih baik dan bahagia. Namun sekali lagi, bukan kebrutalan yang harus dibenci, melainkan kebodohan manusia yang dengan rela kehilangan keunggulannya.

Maka dari itu, kamu harus mengerti Rayna sayang, bahwa keunggulan merupakan tema utama dari ajaran Zarathustra. Zarathustra prihatin terhadap kenyataan bahwa manusia terjebak dalam lupa diri dan semakin terasing dari kehidupan mereka sendiri. Karena terlalu sering menderita, manusia bermimpi tentang surga dan tidak mau mengakui bahwa kaki mereka masih menjejak Bumi. Zarathustra menyerukan penjungkir-balikan nilainilai moral yang telah lama memperbudak manusia, dengan tujuan agar mereka bebas dan berani menentukan sendiri nilai untuk keunggulan mereka — berani untuk menuliskan takdir mereka sendiri.

Sudah saatnya manusia lama harus mati demi merayakan kelahiran manusia baru: Übermensch atau Manusia Unggul menurut Zarathustra. Manusia harus menanggalkan “moral budaknya” untuk menjadi individu yang berani berpikir sendiri. Sekarang bukan lagi zamannya untuk hidup “menurut petunjuk” tuhan (yang telah mati dan bangkainya telah lama membusuk), majikan, atau siapa pun! “Manusia unta” yang gemar berlutut untuk menanggung beban yang memperbudaknya harus bermetamorfosis menjadi “manusia kupukupu” yang bebas terbang ke mana saja. Manusia harus berani menyatakan diri dan keinginannya — dalam hal ini, Ray sayang, manusia juga harus berani dalam kesendirian dan kesepian, berani berjalan/terbang seorang diri. (Akan tiba masanya ketika kesendirian membuatmu lelah dan kamu bakal berteriak dengan lantang dan penuh kelegaan: “Saya sendirian!”.)

Manusia harus terus berproses dan berkembang — bukan berkat orang lain, melainkan berkat diri mereka sendiri. Tiba saatnya bagi kita — saya dan kamu; para manusia — untuk mencari orientasi hidup dari kekuatan sendiri. Jangan lagi menyusu pada orang lain, atau menyembah tuhan (yang telah mati dan bangkainya telah lama membusuk), atau mengharapkan munculnya pahlawan. Sudah saatnya menjadi “manusia kupukupu” yang terbang bebas mencari makna dan nilai kehidupan bagi diri sendiri.

Namun hal itu masih belum cukup, Rayna sayang. Bagi Zarathustra, manusia harus berani melampaui batasan mereka sendiri menuju Manusia Unggul. Manusia bisa saja terjatuh dalam usahanya tersebut, namun mereka tidak bisa melangkah mundur. Oleh karena itu, “manusia kupukupu” masih harus menjalani metamorfosis ketiga yaitu menjadi “anak-anak”.

“Anak-anak” dalam metamorfosis ketiga ini memiliki maksud kebebasan untuk berkreasi mencipta nilainilai moral sendiri. “Manusia kupukupu” telah meniadakan “manusia unta” dengan membebaskan dirinya dari bebanbeban moral konyol yang ditanggungnya dari tuhan (yang telah mati dan bangkainya telah lama membusuk), dari sejarah, dari masyarakat, dari masa lalu, dan dari berbagai macam kewajiban yang absurd. Kebebasan ini harus mengantarkan manusia kepada penciptaan nilainilai moral sendiri yang benarbenar baru. Dan “anak-anak” yang selalu bersuka-cita, bermain, dan berimajinasi — sepertimu, Rayna sayang — adalah simbol penciptaan nilainilai moral baru yang diharapkkan oleh Zarathustra: Manusia Unggul yang kreatif, bebas, dan amoral.

Peluk dan cium dengan penuh cinta, dan amarah; itu sudah. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s