Carpe diem

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta: kamu tidak sedang tergesa-gesa kan, sayang? Proses menumpuk rindu (untuk kemudian mempertemukannya) bisa berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Kita hanya perlu menikmati proses kemenjadiannya — atau mungkin kita bisa mulai belajar tipu muslihat untuk melipat ruang dan mencurangi waktu.

Hidup hanya menunda kekalahan … sebelum akhirnya menyerah.
— Chairil Anwar

Kita — saya dan kamu, Rayna sayang — (dipaksa) untuk beradaptasi dan menjalani hidup dalam zaman yang serbacepat, serta kita adalah spesies yang dengan senang hati selalu bergegas dan membebani diri dengan berbagai macam agenda yang membutuhkan kecepatan super untuk diselesaikan. Di hadapan cita-cita, kita — dengan khidmat dan ketakjuban yang luar biasa — lupa untuk menikmati waktu, untuk merayakan setiap momen kemenjadian.

Waktu, bagi manusia macam kita ini, hanyalah satuan yang dipisah dalam unit-unit yang lebih kecil bernama jam, menit, dan detik. Hal itu mestilah dilewati dengan terukur, sistematis, dan terjadwal. (Bahkan untuk menuntaskan rindu pun harus ada jadwalnya, bukan? Ah, sial!) Dan dengan hal itu pula kita akan mengukur pencapaian hidup: apakah kita telah melewati waktu dengan penuh manfaat, atau sia-sia belaka.

Karena segalanya dalam hidup ini harus terjadwal dan memiliki manfaat, kita lupa bagaimana caranya menikmati waktu atau mencari “makna yang sebenarnya” dalam setiap proses kemenjadian. Jarang sekali kita mengetukkan jari dalam irama tertentu hanya semata-mata untuk merayakan jari, atau bertepuk-tangan untuk merayakan tepukan, atau juga bersiul untuk merayakan siulan. Kita, Ray sayang, dalam menjalani hidup yang serbacepat dengan jadwal yang semakin menumpuk, tidak ada ubahnya dengan sebuah mesin yang tidak memiliki hasrat dan kehendak bebas untuk menikmati waktu. Menyedihkan.

In the city of the future | it is difficult to find a space || I’m busy to see you | you’re to busy to wait,” seloroh Radiohead dalam lagunya berjudul Palo Alto.

Menikmati waktu, merayakan kehidupan
Hanya sedikit saja — bila tidak ingin mengatakan “tidak ada sama sekali” — dari kita saat ini yang ingin bepergian dari Kota Pasuruan ke Malang dengan cara menaiki bus jurusan Surabaya lalu mengambil rute menuju Tuban, untuk kemudian berpindah bus jurusan Jombang, yang dilanjutkan dengan bergerak menuju Batu untuk bersantai sejenak menyesap secangkir kopihitam dan mengisap empat-lima batang rokokputih sebelum akhirnya menaiki minibus yang melaju ke daerah Dinoyo, Malang.

Makhluk seperti itu bakal sangat sulit dipahami oleh kawan-kawannya, sangat sukar untuk dimengerti oleh bos di tempat kerjanya. Di zaman yang serbacepat seperti sekarang ini, hasil adalah prioritas yang utama, tidak peduli proses menyenangkan (dan/atau menyedihkan) seperti apa yang telah dilewati agar mampu sampai pada titik tersebut.

Makhluk seperti itu tidak peduli dengan kenormalan, kelaziman, atau bahkan dengan kebiasaan. Ia mempersetankan kepastian yang presisi — ia sepenuhnya tahu caranya bersenang-senang merayakan kehidupan. Bahwa hal itu merupakan pencapaian tertinggi dan kebenaran sejati agar hidup menjadi lebih berarti.

Makhluk seperti itu bakal selalu dirindukan, tetapi tidak selalu diinginkan. Sebab, dalam peradaban yang menuntut untuk selalu bergerak dengan kecepatan yang mengerikan namun harus selalu terjadwal, ia yang gemar berpetualang dan selalu siap untuk diajak melakukan hal-hal kecil yang tidak menentu sangat mungkin menjadi pecinta hebat penuh kejutan menyenangkan dan akan memberikan banyak sekali kenangan manis, namun itu tidak cukup aman untuk dijadikan pendamping hidup sebagai suami/istri.

Hidup adalah, bagi makhluk seperti itu, sebuah permainan menggairahkan — bukan semacam blueprint lengkap dengan aturan-aturan membosankan — yang harus dirayakan sebelum akhirnya mati dalam peluk mesra moksa yang memesona.

Sebab, Rayna sayang, bangun jam enam pagi setiap harinya untuk kemudian menghabiskan duapertiga waktu harian dengan membudak demi bertahan hidup bukanlah satu-satunya cara yang ideal dan membahagiakan untuk menikmati kehidupan dengan sebaik-baiknya.

Sampai jumpa bulan depan, dan semoga kamu sudah mulai lihai untuk mengakali bosan. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s