Belum menyerah, hanya resah

Kamu, di sana, masih saja mengeluh tentang jarak yang tidak bisa dilipat. Saya, di sini, selalu mengeluh tentang gerak yang terlalu lambat. Kita menggantungkan rindu pada gerak dan jarak yang tidak kunjung saling bebat.

Saya mencaci-maki dirimu yang masih tersesat dalam keagungan pergi saat pagi melupakan senja sementara kamu mencaci-maki diri saya yang mudah dijebak oleh ketentraman hitam saat malam meninggalkan senja. Kita menitipkan rindu pada malam dan pagi yang takkan pernah saling peluk di pelataran senja.

Arogansi senyum dan keteduhan mata mencari sesuatu bernama “rumah”.

Ah, entahlah… {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s