Ayah dan sepanjang jalan menujunya

Ayah,.

Adalah tikungan yang selalu saya coba untuk telusuri lagi. Segala remah roti yang saya coba pungut sebelum lesap purna bersama asap rokokputih. Dengan lingkar foto menahun, saya coba merawat air mata yang curah dari setiap detik kehilangan yang tidak pernah habis saya tepis. Kenangan yang saya hidupi agar tidak hancur meski waktu telah mengubur. Ujung rindu yang kerap utuh di antara berpuluh-puluh keluh.

Adalah kota yang kerap lupa mencatat keriangan masa muda yang kini kembali dilumuri sunyi dan sendiri.

Sepanjang jalan menuju ayah yang telah mengabadi … di sini.

Di dalam sini. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s