Menjemput gelap: akhir, dan awal dari segalanya

Pada gelap dan sunyi. Mereka saling berbagi peluk, berbagi rasa, berbagi senyum; segalanya. Merayakan permainan paling subversif dan berbicara bahasa paling purba dalam sejarah kehidupan. Cinta.

Saya telah menuliskan setiap senja. Senja yang merah. Senja yang mengembalikan kupukupu pada sarangnya. Saya terbang memburu cahaya, seperti laron yang ditakdirkan untuk terus memburu lentera hanya untuk menyadari bahwa terang bakal membakar sayapnya.

Kamu telah melukis setiap senja. Senja yang merah. Senja yang membangunkan kupukupu untuk pergi dari sarangnya. Kamu mengumpulkan cahaya, seperti lentera yang berfungsi sebagai penerang agar sisasisa harapan tetap menyala di dalam dada.

Kita — saya dan kamu, puan betina — mencintai senja yang sama. Senja yang mempertemukan kita di pelataran cakrawala, senja yang pada akhirnya meninggalkan kita dalam keberangkatan masingmasing menjemput gelap. Pada sebuah candu yang mengantarkan kita ke dalam pelukan kehampaan bernyawa.

Ada saatnya seseorang berangkat, ada masanya seseorang harus berpulang … dan di antara keduanya adalah perjalanan. Mengikuti remah rindu menuju pojokan jantungmu adalah perjalanan penebusan saya sebagai seorang lelaki pemimpi yang dungu.

Puan betina, saya pasti pulang … namun jangan kamu tunggu. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s