Lelaki dan satu tahun lainnya yang telah lewat

Lelaki itu tidak pandai berhitung; perihal seberapa banyak waktu yang hilang hanya untuk sekadar menghindar, perihal seberapa lama tawa yang pecah untuk menyembunyikan luka, perihal tumpukan harap yang tersimpan selepas sumpah serapah tentang nasib yang tidak pernah mau bersahabat.

Lelaki itu juga tidak pandai berangan-angan; perihal kehadiran yang seharusnya ada saat rindu mulai menyesakkan dada, perihal peluk untuk menenangkan dingin, perihal lentera untuk menemani malam, perihal kupukupu yang akhirnya melabuhkan kecup pada senjanya.

Jika kebersamaan adalah harga mati untuk kebahagiaan, maka lelaki itu termasuk makhluk yang paling merugi. Apa lacur? Sepanjang satu tahun ini, lelaki itu terlalu sibuk untuk menepi dan terbiasa dipeluk sunyi demi menghindari kerumitan yang seringkali terjadi.

Tanpa dingin, peluk tidak bakal sehangat itu bukan? Dan bukankah dengan malam, terang pagi bakal terlihat semakin cantik dan melegakan? Entahlah, pikir lelaki itu.

Oh semesta, jika boleh meminta, bisakah kau kekalkan waktu seperti ini saja?

Bahagia? Apa kalian bercanda? {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s