Demikianlah

Kita coba mengukur kedalaman jiwa
sisasisa impian tersimpan pada sepasang mata
para pejuang menjanjikan musim bunga
yang kembali tiba di penghujung bulan lima.

Genta mengalun membawa secuil bara
ritual upacara mendedahkan jiwa
menyingkap taman yang menyembunyikan rahasia
demi bahagia, katakata menjelma senjata
melarikan diri dari sebuah dongeng yang lupa ditutup
oleh seorang ibu yang kedua matanya mengatup
sementara anak-anak kesayangannya berjatuhan
di ujung jemari kakinya, memahat kenangan.

Puisi demi puisi lahir
dari rahim kebebasan yang paling akhir
letih kita merekah di ujung pagi
para pengkhotbah muak untuk terus-terusan masturbasi
semesta tidak pernah mengenal hamba dan gusti
tuhan mulai merencanakan kematiannya sendiri
di atas altar kayu usang beralaskan selembar tikar berduri
tanpa pemberontakan: telentang, pasrah, diam; mati.

Lalu … yang tersisa adalah sunyi yang menyimpan nama kita
tengah hari telah tiba: jadi marilah kita berpisah saja. {}

Advertisements

2 thoughts on “Demikianlah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s