14 November: elegi manusia tentang merindukan sesuatu yang tidak dimengertinya

Manusia yang terkubur itulah yang menurunkan saya.

Dia mengalami berbagai macam percintaan — cinta yang pernah mematahkannya dan cinta yang dipendam dikuburnya. Dia juga memiliki citacita yang begitu tinggi. Dan dia pun pernah mengalami ketakutan, kesengsaraan, kegembiraan, dan emosi lain yang ada di dalam setiap jantung persegi milik manusia.

Namun semua itu sudah mati baginya. Kini, dia sudah tidak digunakan lagi oleh sejarah, oleh manusia, dan oleh dunia yang menyebalkan ini. Kini, dia sudah memeluk maut yang memesona.

Manusia yang terkubur itulah ayah saya.

Selamat hari lahir, ayah. Saya sudah bosan dengan semua ini — bosan dengan kesopanan dan moralitas yang penuh dengan kemunafikan yang memenuhi dunia tua hari ini. Saya masih berusaha mencurangi semesta, mencipta momen agar saya bisa — untuk sekali saja — menikmati kopihitam dan beberapa batang kretek kesukaanmu, suatu hari nanti denganmu. Sebab saya merasa masih belum tuntas membaca halaman demi halaman milikmu, untuk mengenalmu — untuk berbagi keresahan dengan cara yang paling sunyi dan paling sendiri, bersamamu.

Selamat hari lahir, ayah. Semoga ayah selalu bahagia. Dan ayah, menjadi dewasa itu terlalu melelahkan dan terlampau membosankan.

Sungkem, dan peluk. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s