Teras rumah

Saya masih ingat teras rumah itu: tembok putihnya yang berpadu dengan lantai keramik berwarna biru tua, potpot kecil berisi bunga warna-warni, rak sepatu yang kosong karena sepatusepatu selalu berserakan di depan pintu yang warna cokelatnya dibiarkan memudar, dan kamu yang selalu mampu menutupi resah dengan tawa saat menyambut diri saya yang datang membawa sekarung rindu dalam aroma kopihitam dan rokokputih.

Saya masih ingat teras rumah itu: sebuah tempat di mana kita sering merasai rindu dalam balutan duka dan suka, mengamini romantisme sepasang kekasih dari zaman yang sebenarnya tidak pernah ada, bercerita tentang segala macam kisah perjuangan yang ditumpulkan kenyataan.

Saya masih ingat teras rumah itu: ruang yang semakin meluas meninggalkan jejak yang tidak sanggup kita pijak sementara sang waktu tidak pernah melambatkan laju kereta senja miliknya, kita menjadi spektator remahremah harapan beterbangan di udara mewangikan batubatu kecil dan mengabarkan tentang sebuah perayaan kesedihan ke seluruh penjuru semesta.

Apakah kelam adalah warna campuran antara impian dan lelah?

Saya masih ingat teras rumah itu: tembok putihnya yang berpadu dengan lantai keramik berwarna biru tua, potpot kecil berisi bunga warna-warni, rak sepatu yang kosong karena sepatusepatu selalu berserakan di depan pintu yang warna cokelatnya dibiarkan memudar, dan kamu yang selalu mampu menutupi resah dengan tawa saat menyambut diri saya yang datang membawa sekarung rindu dalam aroma kopihitam dan rokokputih.

Saya masih ingat teras rumah itu… {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s