Ketiadaan tuhan

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta — ini untuk menjawab pertanyaanmu kenapa saya tidak pernah menemanimu pergi shalat ke masjid, sayang. Saya tidak pernah menganggapmu terlalu kecil untuk belajar atau mengetahui sesuatu, meski saya juga tidak memiliki ekspektasi apa pun ketika kamu nantinya membaca tulisan ini. Yang terpenting adalah saya selalu cinta dan bakal terus-menerus mencoba membersamaimu dan membantumu untuk terus berkembang.

Rayna sayang.

Ketika membolak-balik buku tentang psikologi anak, saya menemukan bab tentang pemberontakan anak. Dalam bab tersebut menyebutkan bahwa tahap pertama pemberontakan seorang anak terhadap orangtua-nya adalah saat sang anak mulai mencoba untuk membedakan diri dengan menuduh orangtua-nya tidak hidup dalam nilainilai mereka sendiri. Sebagai contoh, jika orangtua mengajarkan bahwa kebaikan dan pertimbangan itu penting, sang anak bakal menuduh orangtua mereka tidak memiliki kasih sayang yang cukup. Dalam hal ini, sang anak belum mendefinisikan dirinya sendiri atau nilainya sendiri; dia masih menerima nilainilai dan ide-ide yang diwariskan orangtua kepadanya, dan dia hanya mampu menyatakan identitas mereka dalam kerangka itu. Kemudian, ketika sang anak mulai mempertanyakan tentang kepercayaan dan moral yang diajarkan kepadanya, barulah dia menjadi individu yang berdiri bebas.

Saya sering berpikir bahwa kebanyakan dari kita — para manusia — belum melampaui tahap pertama pemberontakan itu dalam kehidupan yang sedang dijalani. Kita mengkritik tindakan orang-orang dalam arus utama dan efek dari masyarakat yang mereka bentuk pada manusia dan hewan, kita menyerang kebodohan dan kekejaman sistem mereka, namun kita jarang mempertanyakan tentang sifat dari apa yang kita sebut sebagai “moralitas”. Mungkinkah hal ini juga merupakan “moralitas”, yang mana kita bisa menilai tindakan mereka adalah sesuatu yang harus dikritik? Ketika kita mengatakan bahwa eksploitasi terhadap hewan itu merupakan “moral yang salah”, apa itu artinya? Apakah kita hanya bisa menerima nilainilai yang mereka terapkan dalam tatanan sosial masyarakat dan mengubahnya, daripada mencoba menciptakan standar nilai moral bagi diri kita sendiri?

Mungkin sekarang kamu bakal bertanya, Ray sayang: “Apa maksudmu dengan membikin standar moral untuk diri sendiri? Sesuatu yang secara moral ‘benar’ atau ‘salah’ (moralitas) bukanlah sesuatu yang dapat dibuat seenak udelmu; ini bukan hanya masalah pendapat!” Sampai titik ini, kamu menerima salah satu prinsip dasar dari masyarakat yang membesarkanmu: “benar/salah” bukanlah penilaian individual, melainkan hukum dasar dari dunia. Ide ini merupakan pusat peradaban kita saat ini, Ray. Jika kamu ingin mempertanyakan suatu otoritas kekuasaan, maka kamu harus mempertanyakan ide tentang moralitas terlebih dahulu!

Tidak ada yang namanya “buruk” atau “baik”
tidak ada standar universal tentang “salah” atau “betul”
hanya ada kita … dan nilai yang kita ciptakan untuk diri kita sendiri.

Dari mana gagasan “hukum moral” berasal?
Nyaris semua orang percaya dengan keberadaan tuhan: dialah yang memimpin dan menggerakkan dunia ini; dia memiliki kekuasaan mutlak atas dunia ini; dan dia telah menetapkan hukumhukum yang harus dipatuhi oleh semua makhluk hidup — jika tidak mematuhi aturannya, maka harus siap menerima hukuman yang mengerikan. Tentu saja, Ray, kebanyakan orang mematuhi hukum tuhan sebisa mungkin, ketakutan terhadap penderitaan yang abadi lebih kuat ketimbang keinginan untuk mengetahui segala hal. Karena setiap manusia hidup dalam hukum yang sama, mereka menyetujui bahwa “moral” adalah seperangkat nilai yang ditetapkan oleh hukumhukum tuhan. Dengan demikian, “salah/betul” atau “buruk/baik” ditetapkan oleh hukum tuhan, yang diterima oleh setiap manusia karena rasa takut.

Suatu hari, orang-orang mulai menyadari bahwa tidak ada halhal seperti tuhan. Tidak ada bukti ilmiah untuk menunjukkan keberadaannya, dan hanya sedikit orang yang mampu melihat poin penting dari keimanannya. Tuhan menghilang dari dunia; tidak ada seorang pun yang takut padanya atau pada hukumannya.

Namun hal aneh malah terjadi, Ray. Meskipun orang-orang ini berani untuk mempertanyakan keberadaan tuhan, dan bahkan menolak keberadaannya di hadapan orang-orang yang masih memercayai keberadaan tuhan, mereka tidak berani mempertanyakan moralitas yang ada di dalam hukum tuhan. Mungkin saja ini bukanlah sebuah permasalahan bagi mereka; telah ditanamkan kepada semua orang untuk memegang kepercayaan yang sama tentang apa itu moral, berbicara dengan cara yang sama tentang “benar dan salah”, jadi mungkin mereka beranggapan bahwa “baik dan buruk” itu sudah jelas, terlepas apakah itu kehendak tuhan atau tidak. Atau mungkin orang-orang lebih memilih hidup di bawah hukumhukum ini, bahkan mungkin mereka takut untuk membayangkan ketiadaan hukumhukum ini daripada absennya tuhan itu sendiri.

Sisi kemanusiaan ini berada pada posisi yang aneh: meskipun sudah tidak ada lagi suatu otoritas yang menetapkan “salah atau betul” secara absolut, mereka masih menerima ide bahwa ada beberapa hal yang “benar atau salah” secara alami. Meskipun mereka tidak lagi memiliki keimanan kepada tuhan atau dewa, mereka masih memiliki iman kepada kode moral universal yang diikuti oleh semua orang. Meskipun mereka tidak lagi percaya terhadap tuhan atau dewa, mereka belum berani untuk berhenti mematuhi perintahnya; mereka telah menghapuskan ide tentang penguasa ilahi, bukan kode etik keilahiannya. Kepatuhan kepada hukumhukum langit telah menjadi mimpi buruk bagi manusia yang bertahan dalam waktu yang cukup lama, Ray.

Tuhan telah mati — begitu juga dengan hukum moralnya!
Tanpa tuhan, tidak ada lagi standar objektif yang digunakan untuk menilai “buruk dan baik”. Kesadaran ini sangat mengganggu para filsuf pada beberapa abad yang lalu, tetapi belum benarbenar memberikan pengaruh terhadap yang lain. (Berbicara tentang filsuf, saya sudah bertekad untuk memberikan novel Dunia Sophie dan Dunia Anna karangan Jostein Gaarder sebagai hadiah ulang tahunmu nanti, Rayna sayang.) Tampaknya, kebanyakan orang-orang masih berpikir bahwa moralitas universal dapat didasarkan pada sesuatu selain hukum tuhan: dalam kebaikan untuk semua orang, dalam kebaikan untuk masyarakat, di dalam apa pun yang kita — sebagai manusia — merasa terpanggil untuk melakukannya. Namun penjelasan mengapa standar ini selalu menjadi “hukum moral universal” sangat sulit untuk dimengerti. Biasanya, argumen tentang hukum moral lebih didasarkan pada emosi (perasaan/hati nurani) ketimbang rasional (akal). “Tetapi bukankah pemerkosaan itu salah?” tanya seorang moralis, seolah-olah pendapat bersama itu adalah bukti kebenaran universal. “Tetapi bukankah seseorang perlu percaya pada sesuatu yang lebih baik dari diri mereka sendiri?” para agamis menambahkan, seolah-olah kebutuhan untuk memercayai sesuatu akan membikinnya menjadi benar. Sesekali, mereka bahkan mencoba mengancam: “Apa yang akan terjadi jika semua orang memutuskan bahwa tidak ada ‘baik’ atau ‘buruk’? Bukankah kita akan saling bunuh satu sama lain?

Yang menjadi masalah dalam ide hukum moral universal adalah hal itu menegaskan adanya sesuatu yang kita sebenarnya tidak terlalu paham, melainkan hanya menyutujuinya secara membabi-buta. Orang-orang itu bakal membikin kita percaya bahwa ada semacam “kebenaran moral” — yang mengatakan: ada halhal yang benar secara moral di dunia ini, sama seperti bahwa memang benar langit itu berwarna biru. Mereka mengklaim bahwa sudah menjadi kebenaran mutlak di dunia jika pembunuhan itu “salah secara moral” sama benarnya dengan air membeku pada suhu nol derajat celcius. Namun kita bisa menyelidiki suhu air beku secara ilmiah menggunakan metode empiris: kita bisa mengukur dan mendapatkan kesepakatan bersama bahwa kita telah memperoleh beberapa jenis kebenaran objektif. Di sisi lain, Rayna sayang, apa yang kita amati jika kita ingin menyelidiki apakah benar bahwa pembunuhan itu “salah secara moral”? Tidak ada buku catatan hukum moral di puncak gunung untuk kita konsultasikan, tidak ada perintah yang diukir di langit di atas kepala kita; yang harus kita ikuti adalah hati nurani dan akal kita sendiri, pengalaman hidup kita sendiri. Mengenai katakata dari para imam dan moralis-bau-amis, jika mereka tidak dapat memberikan bukti konkret, mengapa kita harus percaya pada mereka? Dan mengenai hati nurani dan akal kita — jika kita merasakan sesuatu itu “salah/betul”, yang mungkin membikin sesuatu itu menjadi “benar atau salah” bagi kita sendiri, hal itu tidak otomatis membuktikan bahwa ada sesuatu yang “baik atau buruk” secara absolut. Dengan demikian, ide bahwa terdapat hukum moral universal hanyalah takhayul belaka: ini menegaskan bahwa ada halhal di dunia ini yang kita tidak pernah mengalaminya atau belajar tentangnya, namun kita dipaksa untuk memercayainya, Ray. Dan sebaiknya kita tidak membuang waktu untuk bertanya-tanya tentang hal yang (sebenarnya) tidak pernah ada. Ketika dua orang secara fundamental tidak setuju dengan apa itu “benar atau salah”, tidak ada cara untuk menyelesaikan perdebatan. Tidak ada di dunia ini yang dapat dijadikan sebagai rujukan untuk melihat mana yang “benar” — karena memang tidak ada hukum moral secara universal, hanya sebuah tafsiran/persepsi dan evaluasi pribadi. Jadi, Rayna sayang, pertanyaan yang paling penting adalah dari manakah datangnya nilainilai di dalam diri kita? Apakah kita membuatnya sendiri, sesuai dengan keinginan kita, atau kita mendapatkannya dari orang lain — seseorang yang telah menyamarkan pendapatnya sebagai sebuah “kebenaran absolut”?

Saya selalu curiga terhadap ide tentang kebenaran moral universal. Dunia ini penuh dengan kelompokkelompok dan individu yang ingin memengaruhi kita untuk memeluk agama mereka, meyakini dogma mereka, mengikuti agenda politik mereka, serta membenarkan pendapat mereka. Tentu saja mereka bakal memberi tahu kita bahwa hanya ada satu kebenaran bagi semua orang, dan tentu saja mereka akan memberi tahu kita bahwa keyakinan mereka adalah yang paling benar. Setelah kita yakin bahwa hanya ada satu standar tentang “benar atau salah”, maka selangkah lagi mereka bakal meyakinkan kita bahwa standar mereka adalah yang paling benar. Berhati-hatilah terhadap orang yang ingin menjual ide tentang “hukum moral universal” kepada kita, Ray! Klaim mereka tentang “moralitas merupakan masalah hukum universal” hanyalah cara licik mereka untuk memaksa kita menerima nilainilai mereka ketimbang nilai kita sendiri yang mungkin bertentangan dengan mereka.

Jadi untuk melindungi diri dari takhayul para moralis-bau-amis dan tipu muslihat dari penginjil/pendeta/imam, cobalah untuk berhenti meyakini tentang adanya sebuah hukum moral universal. Marilah melangkah maju menuju era baru, di mana kita akan membikin nilai untuk diri kita sendiri daripada menerima hukumhukum moral karena ketakutan dan ketaatan. Kamu mungkin bisa meresapi kalimat ini, Rayna sayang: tidak ada moral secara universal yang mendikte perilaku manusia. Tidak ada yang namanya “baik atau buruk”, tidak ada standar universal tentang “benar atau salah”. Nilainilai dan moral untuk kita berasal dari dalam diri kita sendiri dan itu milik kita, entah kita menyukainya atau tidak; jadi kita seharusnya merasa bangga dengan nilainilai kita sendiri, sebagai ciptaan kita sendiri, daripada mencari beberapa pembenaran dari luar.

Mengutip Socrates, filsuf besar dari Yunani, Ray: “Pemahaman sejati timbul dari dalam diri sendiri. Itu tidak dapat ditanam-paksa oleh orang lain. Hanya pemahaman yang timbul dari dalam itulah yang dapat menuntun kepada wawasan yang ‘benar’. Dan wawasan yang ‘benar’ menuntun kepada tindakan yang ‘benar’.” Dengan begitu, Socrates percaya bahwa kemampuan untuk membedakan atau menentukan “benar dan salah” terletak pada akal manusia masingmasing, bukan pada masyarakat. Bisakah kamu menjalani kehidupan yang bahagia jika kamu terus-terusan melakukan hal yang jauh di palung jantung terdalam kamu tahu bahwa itu salah? Dapatkah kamu menjalani kehidupan yang bahagia jika kamu hanya bisa mengikuti aturan, norma, dan dogma orang lain yang dipaksakan kepadamu, Ray?

Kita bukan semata-mata makhluk material, namun juga makhluk berakal. Sebagai makhluk material, kita sepenuhnya milik dunia alam dan oleh sebab itu, kita tunduk pada hubungan kausal. Dengan kata lain, kita tidak memiliki kehendak bebas. Namun sebagai makhluk berakal, kita — saya dan kamu, Ray — punya peranan di dalam apa yang disebut oleh Immanuel Kant dengan das ding an sich: dunia sebagaimana dia ada dalam dirinya sendiri, terlepas dari persepsi atau kesankesan indra kita. Dan hanya jika kita mengikuti hati nurani dan akal  — yang memungkinkan kita untuk menentukan atau menciptakan nilai moral sendiri — maka kita telah menjalankan kehendak bebas kita. Sebab jika kita ingin mematuhi hukum moral, maka kita sendirilah yang harus membikin hukum moral yang kita patuhi itu.

Namun jika tidak ada “buruk atau baik”, jika kita tidak mempunyai nilai moral, bagaimana cara kita mengetahui apa yang harus dilakukan?
Bikinlah standar “baik dan buruk” untuk kita sendiri. Jika tidak ada hukum moral yang berdiri di atas kita, itu berarti kita bebas — bebas untuk melakukan apa pun yang kita inginkan, bebas menjadi apa pun yang kita inginkan, bebas untuk mengejar keinginan kita tanpa ada rasa malu atau bersalah. Temukan apa yang kita inginkan dalam hidup kita, dan lakukan; menciptakan nilai yang menurut kita “benar” bagi diri kita sendiri, dan hidup di dalamnya. Ini tidak akan mudah, dengan cara apa pun; keinginan menarik kita dari arah yang berbeda-beda, mereka datang dan pergi tanpa peringatan, sehingga menjaga dan memilih di antara berbagai macam hasrat kita adalah pekerjaan yang sulitnya minta ampun — mematuhi instruksi tentu saja lebih mudah, Rayna sayang. Tetapi jika kita hanya menjalani hidup ini dengan mematuhi apa-apa yang diperintahkan kepada kita, sangat kecil kemungkinannya untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan dalam hidup ini: kita berbeda dan tentu saja memiliki kebutuhan yang berbeda, jadi bagaimana bisa hanya ada satu “kebenaran moral” yang berlaku untuk kita semua? Jika kita mengambil tanggung jawab untuk diri kita sendiri dan menciptakan nilainilai untuk diri kita sendiri, maka kita bakal memiliki kesempatan untuk mencapai kebahagiaan. Hukumhukum moral lama yang tersisa pada saat kita hidup dalam penuh ketakutan perihal ketiadaan tuhan telah menghilang; dengan tidak adanya hukum moral tersebut, kita dapat melepaskan diri dari semua kepengecutan, kepatuhan, dan takhayul yang telah menjadi ciri khas kehidupan masa lalu kita.

Terdapat beberapa kesalah-pahaman dari pernyataan bahwa kita harus menentukan keinginan kita sendiri itu dianggap sebagai hedonisme. Yang dibicarakan di sini bukanlah keinginan yang bakal cepat hilang/berlalu seperti yang diidamkan oleh para libertin. Ini adalah keinginan yang paling kuat, paling dalam, paling abadi, dan merupakan kecenderungan dari setiap individu: nilainilai yang dibentuk untuk diri sendiri harus didasarkan pada rasa cinta dan benci dari diri kita sendiri. Dan kenyataan bahwa dengan tidak adanya tuhan menuntut kita untuk mengasihi satu sama lain atau bersikap saleh bukan berarti kita tidak harus melakukan halhal itu untuk diri kita sendiri, jika kita menemukan manfaat dari hampir semua hal yang kita lakukan. Mari kita melakukannya karena kita sendiri, bukan demi ketaatan kepada dewa, tuhan, atau kode moral!

Namun bagaimana bisa kita membenarkan suatu tindakan berdasarkan etika kita, jika tidak berdasarkan kebenaran moral universal?
Moralitas telah dibenarkan begitu lama sehingga hari ini manusia kesulitan untuk mengetahui bagaimana memahaminya dengan cara lain. Kita selalu mengatakan bahwa nilai kita berasal dari sesuatu di luar diri kita, karena nilainilai yang berdasarkan pada keinginan kita sendiri dianggap buruk/jahat oleh para pengkhotbah moral. Hari ini kita masih merasa bahwa tindakan kita harus dibenarkan oleh sesuatu di luar diri kita, sesuati yang “lebih besar” dari diri kita sendiri — jika bukan tuhan, maka kita masih mencari dan mengharapkan pembenaran yang diberikan oleh hukum moral, hukum negara, opini publik, keadilan, “cinta manusia”, dll. Kita telah dibiasakan untuk terus meminta izin agar bisa merasakan dan melakukan sesuatu, dilarang untuk mendasarkan apa pun pada keinginan kita sendiri, kita masih berpikir bahwa dengan begitu kita mematuhi kekuatan yang “lebih tinggi” bahkan saat kita melakukan sesuatu atas keinginan atau keyakinan kita sendiri; entah bagaimana, bertindak berdasarkan kepatuhan terhadap otoritas lebih dipertahankan ketimbang bertindak berdasarkan keinginan dan hasrat kita sendiri, Ray. Kita merasa malu terhadap aspirasi dan keinginan kita sendiri, dan kita lebih memilih untuk bertindak berdasarkan sesuatu yang “lebih tinggi” dari keinginan kita. Namun apa yang lebih baik dari keinginan kita sendiri, yang mungkin dapat memberikan pembenaran yang lebih baik terhadap tindakan kita? Haruskah kita melayani sesuatu yang berada di luar dari diri kita tanpa mempertimbangkan keinginan kita sendiri, bahkan mungkin saja itu bertentangan dengan keinginan kita?

Rayna sayang. Masih banyak orang yang salah menanggapi persoalan ini. Mereka menyerang apa yang mereka lihat sebagai ketidak-adilan bukan demi alasan bahwa mereka tidak ingin melihat halhal seperti itu terjadi, tetapi dengan alasan bahwa itu “salah secara moral”. Dengan demikian, mereka mencari dukungan dari semua orang yang masih percaya pada hukum moral, dan mereka mendaku diri sebagai pelayan kebenaran. Orang-orang seharusnya tidak mengambil keuntungan dalam persoalan ini, tetapi harus menantang asumsi dan mempertanyakan tradisi yang ada di dalamnya. Misalnya dalam hal memperjuangkan hak hewan yang dilakukan atas-nama keadilan dan moralitas, merupakan satu langkah maju yang harus dibayar dengan dua langkah mundur: hal itu menyelesaikan satu masalah diiringi dengan mereproduksi dan memperkuat masalah lainnya. Tentu saja perjuangan seperti itu bisa diperjuangkan dan dicapai dengan alasan bahwa hal itu memang diinginkan (tidak ada yang benarbenar mempertimbangkan bahwa mereka benarbenar ingin membantai dan menyiksa hewan, kan?), daripada dengan taktik yang tersisa dari takhayul dan dogma agama. Sayangnya, karena kebiasaan yang sudah berabad-abad, kita merasa lebih baik jika dibenarkan oleh beberapa “kekuatan yang lebih tinggi”, mematuhi “hukum moral”, menegakkan “keadilan”, dan melawan sesuatu yang “tidak baik”, dan orang-orang ini terjebak di dalam perannya sebagai penegak moral dan lupa bertanya apakah gagasan hukum moral ini masuk akal atau tidak.

Ada sensasi kekuasaan yang berasal dari kepercayaan terhadap pelayanan untuk otoritas tertinggi, sensasi yang sama yang menarik orang-orang ke dalam fasisme. Hal ini selalu menggoda untuk melukiskan setiap perjuangan melawan kejahatan, perjuangan “yang benar” melawan “yang salah”; namun hal itu bukan hanya suatu penyederhanaan yang berlebihan, itu adalah sebuah pemalsuan: karena hal semacam itu tidak ada. Kita mengasihi satu sama lain karena keinginan kita, bukan hanya karena “suruhan moralitas”! Kita tidak perlu pembenaran apa pun untuk peduli terhadap kehidupan hewan atau manusia, atau untuk melindungi mereka. Kita hanya perlu memprosesnya di dalam batok kepala dan merasakannya di dalam hati bahwa hal itu memang “benar” bagi kita, untuk memiliki semua alasan yang kita butuhkan. Dengan demikian kita dapat melakukan sesuatu berdasarkan etika kita sendiri tanpa mendasarkannya pada kebenaran moral universal yang absolut dan kaku, serta dengan tidak merasa malu pada keinginan dan hasrat kita sendiri: dengan menjadi kebanggaan untuk menerima mereka, sebagai kekuatan untuk mendorong kita sebagai individu. Dan nilainilai kita mungkin tidak cocok untuk semua orang, itu benar adanya; namun kita harus tetap melanjutkannya untuk diri kita sendiri, jadi kita harus berani untuk tetap bertindak berdasarkan keinginan kita daripada berharap beberapa pembenaran dari sesuatu yang “lebih tinggi” di luar diri kita.

Namun apa yang terjadi jika semua orang memutuskan tidak ada yang “baik atau buruk”? Bukankah kita akan saling membunuh nantinya?
Rayna sayang. Pertanyaan itu mengasumsikan bahwa orang-orang menahan diri dari membunuh satu sama lain hanya karena mereka telah diajarkan bahwa membunuh merupakan tindakan yang “salah”. Apakah manusia benarbenar haus darah dan kejam sehingga bakal memerkosa dan membunuh satu sama lain jika tidak dikendalikan oleh takhayul? Bagi saya, keinginan untuk bergaul satu sama lain setidaknya sebesar keinginan untuk menjadi destruktif — bukankah kita  biasanya lebih menikmati membantu orang lain ketimbang menyakiti mereka? Saat ini, kebanyakan orang-orang mengaku percaya bahwa kasih sayang dan keadilan itu “benar secara moral”, tetapi hal ini hanya memiliki dampak yang sangat kecil untuk membikin dunia menjadi tempat yang adil dan penuh kasih — karena sejatinya setiap manusia memiliki potensi untuk melakukan kejahatan. Mungkin tidak benar bahwa kita akan bertindak lebih sopan berdasarkan kecenderungan alami kita ketimbang jika kita tidak merasa bahwa amal dan keadilan adalah suatu hal yang wajib untuk dilakukan. Apakah benarbenar layak, jika kita semua memenuhi “kewajiban” kita untuk berbuat baik satu sama lain hanya karena kita mematuhi moral? Bukankah lebih berarti bagi kita untuk memperlakukan orang lain dengan hormat karena keinginan dan hasrat kita sendiri, bukan karena suatu “kewajiban” atau mengharapkan imbalan dan pujian?

Dan jika penghapusan mitos tentang hukum moral (entah bagaimana) malah menyebabkan perselisihan di antara manusia, maka hal itu bagi saya masih lebih baik daripada hidup sebagai budak takhayul — perselisihan atau konflik itu alamiah, Rayna sayang. Jika kita membikin sendiri nilainilai kita dan hidup berdasarkan nilainilai itu, setidaknya kita akan memiliki kesempatan untuk mengejar mimpi kita dan menikmati hidup, walaupun terkadang kita harus berselisih dengan orang lain. Tetapi jika kita memilih untuk hidup sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan oleh orang lain (atau bahkan oleh tuhan sekali pun), berarti kita mengorbankan kesempatan untuk menuliskan takdir kita sendiri dan hasrat untuk mengejar impian kita. Tidak peduli seberapa lancar kita bergaul dalam belenggu hukum moral, apakah itu layak untuk pencarian jati diri kita? Saya tidak bakal berbohong kepadamu, Ray, dan mengatakan bahwa kamu harus bertindak “benar” sesuai etika moral universal, walaupun hal itu berpotensi mencegah konflik di antara kita nantinya. Karena saya peduli dan menyayangimu, saya ingin kamu bebas untuk melakukan apa saja yang baik menurut dirimu sendiri. Bukankah itu lebih penting dari sekadar perdamaian di Bumi yang sudah semakin tua dan banal ini? Bukankah kebebasan, meski yang berbahaya sekali pun, lebih baik ketimbang perbudakan dalam bentuk apa pun yang menjanjikan (ilusi) perdamaian dengan kebodohan, kepengecutan, dan kepatuhan?

Selain itu, mari melihat kembali sejarah kita Ray. Begitu banyak pertumpahan darah, penipuan, dan penindasan yang telah dilakukan atas-nama “benar dan salah”. Perangperang berdarah yang telah terjadi mengisahkan bahwa mereka mengira berjuang di sisi “kebenaran moral”. Ide hukum moral tidak membikin kita akur dengan sesama, malah menciptakan perselisihan satu sama lain, untuk bersaing dalam pengejaran predikat “yang paling benar” dari segi moral dan sebutan “yang paling suci” di jalan tuhan. Tidak akan ada kemajuan yang nyata dalam hubungan manusia sampai perspektif semua orang tentang etika dan nilainilai dirinya diketahui; kemudian kita akhirnya dapat memulai untuk menyelesaikan perbedaan kita dan belajar untuk hidup bersama, tanpa meributkan persoalan yang (benarbenar) bodoh tentang nilai dan keinginan siapa “yang paling benar”. Demi kebahagianmu sendiri, buang ide-ide dan gagasan lama tentang “yang buruk” dan “yang baik”, dan mulailah menciptakan nilai-nilaimu sendiri, Rayna sayang!

Namun yang harus diingat adalah manusia bisa menjadi budak dari segala macam hal, Rayna sayang. Manusia bahkan dapat menjadi budak dari hati nurani dan akalnya sendiri, atau menjadi budak dari harapan akan kebiasaan. Kemandirian dan kebebasan adalah dua hal yang dibutuhkan untuk menghidupi hidup dengan sebaik-baiknya agar kita mampu memproduksi hal yang paling penting dalam kehidupan yang semakin banal ini: kebahagiaan.

Dan Ray: tetaplah kamu menjadi bocah nakal yang punya kaki dan hati sekuat jati, serta isi kepala yang tidak lupa berotasi. Persenjatai imajinasimu untuk menghadapi banalitas dunia tua hari ini. Jangan lupa untuk bersenang-senang.

Peluk dan kecup penuh cinta selalu untukmu. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s