Pada detak jam yang lupa waktu

Bagaimana kecupan malammu: apakah masih terlampau dingin?

Jejakmu masih bisu saat kusapa dengan rindu
lalu, aku merangkumnya menjadi satu
ke dalam sebuah Sabtu
bersama nyeri dan hasrat yang enggan meragu
kelelahan adalah masa lalu
saat kamu tertidur di pelukanku
pada detak jam yang melupa waktu
satu per satu kenangan runtuh di tubuhku.

Bagaimana pelukan pagimu: apakah masih terasa sejuk?

Melipat mimpi, menafkahi sepi
Kamu (dan aku) menyesatkan diri dalam pergi.

Bagaimana senyuman senjamu: apakah masih terlihat melodius?

Bertemu retak dunia, gugur di kaca.

: “Kita”. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s