Duka

Kekasih,
segalanya telah menjadi komoditas yang bisa diperjual-belikan
cinta dipajang di deret etalase pasar swalayan
fitnah pun dijual dengan potongan harga yang menggiurkan
aku melihat orang-orang membawa parang dan senapan
sibuk merias bangkai tuhan dan menjajakannya di jalanan
dengan rayuan, dengan paksaan, dengan ancaman
dengan pembantaian, bila itu diperlukan.

Di tanah ini sudah tidak ada apa-apa
gunung dikeruk, hutan dibakar
asapnya menusuk mata dan dada
sungai dan laut direklamasi kaum pemodal dan para saudagar
atas-nama kesejahteraan, usia hanya deret angka
yang harus ditebus dengan kebebasan diri agar tidak berkawan lapar
sampai akhirnya redupkan nyala asa di jiwa
duh kekasih, kesayanganku, yang setia menunggu kabar
kamu tahu betapa lelucon ini mematikanku secara perlahan
karena “lawan” dan “kawan” cuma beda huruf depan.

Dunia tua ini sering membikinku patah-hati
ketika aku menjauh, dia bakal merayu seperti mata teduh sang dewi
saat aku mendekat, dia meludahiku dengan sumpah-serapah dan caci-maki.

Sebab syairku mengawang di atap langit paling utara
maka, kekasih, jangan pernah kamu palingkan wajah dari si nestapa ini
raihlah tangan si lemah ini
peluklah tubuh si jahanam ini
usaplah rambut si bangsat ini.

Sebab syairku gentayangan di perbatasan pagi
maka, wahai kekasih yang menyulut rindu,
aku menunggu hasrat dan harap yang kutanam diamdiam
di teras rumahmu itu tumbuh dan dicukupkan senyuman senjamu
pada saat pohon dalam diri mulai meranggas
menghidupi hidup yang kian banal dan semakin getas. {}

Advertisements

One thought on “Duka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s