Ode untuk lupa

“Dalam lupa, saya selalu mengingat(kan)mu.”

Kamu tidak pernah lagi singgah di cangkir kopi saya; kamu sudah lupa kebiasaan kecilmu itu. Seperti halnya saya yang lupa bagaimana merangkai asap rokok dengan pagi agar mewujud dirimu. Kita semakin lihai menenun wajah lupa yang tidak bakal pernah bisa basah karena kecup hujan.

— Saya, kamu, saat ini, hanyalah bagian dari lupa dan melupakan.

Di sinilah kita bertemu, dalam merayakan lupa, sebab pagi dan senja bukan lagi milik kita. Pada dendam yang menyerupa belati menikam tepat di ulu-jantung berbentuk persegi.

— Kamu, saya, saat ini, hanyalah bagian dari lupa dan melupakan.

Demi masa … kita terlalu nyaman memeluk hening hingga Aphrodite pun enggan bergeming, puan betina. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s