Sanstitre #4

Saya meneguk kopihitam itu — hangat, dengan perlahan dan mesra, menelusuri tenggorokan kemudian menetap di perut. Saya mengisap kretek itu dalamdalam, menjejalkan asapnya ke paruparu, kemudian mengembuskannya dengan perlahan. Asap kretek itu menari-nari indah di depan muka saya, sebelum akhirnya hilang menyatu dengan ketiadaan.

Kamu meneguk kopihitam dari cangkir yang sama, mengisap kretek yang sama. Kamu mengamati asapnya yang menari indah di depan mukamu. Tanpa suara, dan dengan cinta, kamu mengeluarkan belati dari balik bajumu. Kamu menghunusnya tepat di dada kiri saya, tempat di mana saya menyembunyikan jantung persegi (dan rindu) rapatrapat. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s