Hingga titik

Sudah lama rasanya tidak mencecap lelehan memori
lalu renyah tawa bersama angin musim semi
dua jantung melepas lelah di depan pintu mimpi
lalu rebah bersama matahari yang mulai membunuh diri sendiri.

Sudah lama rasanya tidak menyesap lelehan memorabilia
lalu riang teriak bersama kupukupu senja
menenggelamkan wajah pada sisasisa cahaya di atas meja
lalu derai peluh di badan mengering bersama gelak tawa.

Namun puan betina…

Saat kita sudah tidak bisa lagi merasai senja yang sama
saat kita sudah tidak mampu lagi menikmati kupukupu yang menggelitik jemari kaki
bukan berarti sudah tidak ada lagi sebuah perjumpaan untuk kita berdua
untuk menempuh gairah paling purba hingga titik — sampai mati. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s