“Penodaan,” katanya…

Penodaan terhadap tuhan dan agama, namun tuhan dan agama yang mana?

Wahyu pertama Nabi Muhammad dari Malaikat Jibril, katanya, adalah “Iqra” yang berarti “Baca!”. Katanya juga, Muhammad yang pada waktu itu sedang bertapa di Gua Hira merinding mendengar dan menerima wahyu tersebut, sebab Muhammad sendiri — katanya lagi — tidak bisa baca-tulis. Perintah wahyu pertama ini menunjukkan agar umat Muhammad memiliki kehendak untuk terus membaca dan belajar. Lebih lanjut, wahyu pertama itu mendukung adanya kemauan dan keinginan untuk terus berpikir. Dalam sebuah hadis, Muhammad pernah berkata kepada seorang sahabat: “Bila sedang risau, mintalah nasihat pada hatimu. Tanyakan sendiri pada dirimu.” Hal ini berarti tidak semata-mata menuruti dogma, melainkan pada hasrat manusia itu sendiri.

Namun, justru hal seperti itulah yang dimusuhi oleh para pengikut Muhammad — dan seluruh umat beragama pada umumnya — saat ini. Bahkan, di Indonesia, Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa undang-undang penodaan agama masih tetap berlaku. Dengan demikian, manusia yang hidup di Indonesia dengan penafsiran yang dianggap menyimpang dari dogma agama dapat dikenakan hukuman. Undang-undang ini hanya menekankan satu hal: rasa amarah dan ketersinggungan dari pihak yang kuat menjadi lebih penting daripada hak dan kebebasan manusia itu sendiri. Lihat saja siapasiapa yang mendukung peraturan konyol tersebut, kebanyakan datang dari kelompok fasis — fasis yang baik adalah fasis yang mati! — seperti Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Pada kenyataannya, undang-undang yang katanya untuk menjamin agar tidak ada lagi penodaan terhadap agama dan/atau kepercayaan tertentu di Indonesia ini gagal meredam maraknya pembakaran gereja, pelarangan merayakan hari besar keagamaan, teror kepada Jamaah Ahmadiyah, dan cercaan terhadap Kaum Eden malah mendapat dukungan. Kenapa halhal tersebut, yang biasanya dipelopori dan dilakukan oleh kelompok fasis FPI dan HTI, tidak dikenakan hukuman dalam pasal undang-undang penodaan agama? Fatwa telah dijadikan senjata oleh orang-orang fasis itu untuk melarang, menistakan, dan menghukum “yang lain”. Saya pernah membaca bahwa “fatwa” dalam bahasa Arab memiliki arti “anjuran” atau “pendapat”, yang berarti bila tidak dituruti atau tidak diikuti, seharusnya tidak ada sanksi atau hukuman. Kenapa mereka tidak dianggap menodai agama atau kepercayaan orang lain? Orang-orang ini, para kelompok fasis tersebut, juga yang dengan lantang memaki dan bahkan tidak segan untuk menggunakan kekerasan terhadap kelompok yang memiliki keyakinan yang berbeda dengan menggunakan kata jihad. Padahal jihad, sepengetahuan saya, adalah pertarungan habis-habisan dan tiada henti dengan diri dan batin sendiri, bukan dengan orang lain.

Di Eropa, dalam kurun tahun 1480 sampai 1700, diperkirakan sekitar 40.000 hingga 100.000 perempuan dikorbankan hanya karena dituduh telah menodai agama, hanya karena mereka memelihara kucing hitam atau memiliki tanda lahir di tempat yang salah. Di Indonesia sendiri, pada awal zaman Orde Baru, lebih dari dua juta orang dimusnahkan karena mereka dituduh sebagai komunis dan dianggap telah menodai agama. Sudah tidak terhitung banyaknya jumlah korban tidak bersalah yang sudah dibantai hanya karena mereka dianggap menodai tuhan dan agama. Sejarah dunia ini ditulis dengan darah.

Istilah “asbun” atau “asal bunyi” dipopulerkan pada zaman Orde Baru. Kebebasan bersuara dan mengeluarkan pendapat sahsah saja, namun yang menentukan seberapa bebasnya seseorang dalam mengemukakan pendapatnya adalah sang penguasa. Dengan kata lain, bila ada individu atau kelompok yang mengeluarkan kritikan untuk pemerintahan rezim Orde Baru, maka inilah yang dinamakan “asal bunyi” dan para pengritik tersebut bakal dikenai hukuman penjara atau bahkan dihilangkan.

Pada zaman Orde Baru juga istilah SARA (Suku, Agama, dan Ras) mulai diperkenalkan. Halhal yang tidak sesuai dengan kehendak pemerintah disebut SARA. Bila ada suatu diskusi yang membahas tentang agama dan etnis yang dianggap mencurigakan dan mengancam stabilitas pemerintahan disebut SARA. Padahal yang sebenarnya SARA adalah pemerintahan rezim Orde Baru itu sendiri. Namun justru itulah enaknya menjadi pihak yang berkuasa: bisa berbuat seenaknya; lempar batu sembunyi tangan; maling teriak maling!

Bagi siapa saja yang meyakini adanya tuhan dan memercayai teori penciptaan, mereka meyakini bahwa manusia diciptakan dalam perbedaan dengan variasi yang tidak terhingga. Karena itulah hasrat dan keyakinan manusia yang satu dengan manusia lainnya tidaklah sama. Dengan begitu, kebebasan beragama dan meyakini suatu kepercayaan — atau meyakini ketidak-percayaan — tidak boleh dibatasi oleh aturan-aturan dan dogmadogma konyol hanya karena interpretasi yang berbeda dari yang lain. Justru undang-undang penodaan agama ini malah melanggar prinsip tentang teori penciptaan itu sendiri.

Dan bagi mereka yang memercayai keberadaan tuhan, sudah seharusnya mereka mulai bertanya bahwa kata “tuhan” bisa juga memiliki arti “setan yang menyaru”. Bukankah tuhan yang maha tinggi itu merupakan zat yang tidak bakal bisa dimengerti oleh akal pikiran manusia yang terbatas? Jadi, jika tuhan tidak dapat dimengerti, maka bisa jadi manusia yang mengagungkan nama “tuhan” sebenarnya malah beriman kepada “setan”.

Semua agama di Indonesia saat ini tumbuh sebagai penafsiran yang berbeda dari agama-agama sebelumnya. Bukankah Kristen adalah interpretasi dan kritik terhadap kepercayaan Judaisme? Atau Buddha yang menginterpretasi Hindu dengan menghapuskan kastakasta masyarakat? Agama-agama modern di Indonesia saat ini adalah produk impor dari luar yang menggantikan (secara paksa) agama dan kepercayaan lokal yang kebanyakan berdasar pada animisme, dinamisme, paganisme, pantheisme, dan politeisme. Bila undang-undang penodaan agama memang benarbenar diterapkan tanpa pandang bulu, maka seluruh umat beragama di Indonesia bisa dituntut karena melanggar pasal 1 dalam undang-undang tersebut.

Memang, evolusi dan perubahan merupakan hal yang tidak bisa dihindari dalam hidup ini karena hasrat manusia untuk terus mencari jawaban dan pengetahuan tidak bakal pernah mati. Namun kenyataannya, terutama di Indonesia, hasrat seperti itu sudah ditiadakan oleh orang-orang fasis yang merasa paling benar dengan aturan, dogma, dan moralitas konyol mereka. Karena itu sudah seharusnya kita mulai mempertanyakan dan melawan para tokoh agamis dan moralis bau amis di luar sana yang begitu ngotot mempertahankan dogma konyol mereka, yang ingin menghentikan pergerakan semesta pada satu titik stagnan yang selalu sama dan membosankan, yang selalu memaksakan keyakinan mereka dan menyerang kelompok lain mengatas-namakan tuhan. Sudah saatnya juga bagi kita untuk mulai bertanya: “Siapa sebenarnya diri kita, para manusia?

Dunia tua ini semakin banal dan tidak baikbaik saja.

Tabik. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s