Paragraf diam

/1/

Kamu, aku, juga asing yang menjadi karib
berjalan menyusuri hampa pada lembaran nasib
di semesta masingmasing
dalam hening masingmasing.

/2/

Gelisah sebelum perjumpaan yang jalang
di setiap awal bulan kesepuluh
hanyalah upaya merawat kenangan, katamu
dari penggalan dialog usang
tentang konsepsi cinta yang ambruk dihajar kenyataan
tentang “kita” yang dikalahkan dengan cara paling kejam.

/3/

Penghujung sore itu di Kotabaru
di pojok senyummu aku belajar mengelabui rindu
dan sepi yang selalu menghamba pada Sabtu.

/4/

Lalu aku pilih diam membisu
tanpa pernah ingin mengumbar pilu
di selasela percakapan
dan kopi yang kusesap perlahan
dari lekuk tubuh perempuan. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s