Semua masih sama di waktu yang berbeda

Seluruh tubuh saya diselimuti kabut senja. Saya hanya dapat mewujud dalam secarik kenangan setelah menyusuri seluruh lekuk keindahan tubuhmu. Saya tetaplah sang pecinta tanpa ikatan tradisi seperti yang biasanya diwariskan sepasang kekasih di sini. Menjunjung rindu di atas pundak membikin saya seperti dungu yang menggigil bersidekap dengan hangat yang mulai terpejam di tepian cakrawala langit barat sembari terus melipat jarak untuk sampai dan bisa mengupas kerinduan di hadapanmu. Namun saya masih saja mendapati diri sebagai Paris pada kisah yang lain, layaknya seekor ulat di dalam kepompong yang menjelma kupukupu hanya untuk menemukan bahwa sayap pelanginya selalu saja hilang dirampas pagi. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s