Blur

Shizuka Minamoto (kiri) yang harus rela badannya jadi burem, dan Suneo Honekawa yang menertawakan hal itu ("Coconuts Indonesia")
Shizuka Minamoto (kiri) yang harus rela badannya jadi burem, dan Suneo Honekawa yang menertawakan hal itu (“Coconuts Indonesia”)

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta — TV di rumahmu itu tidak rusak kok, sayang, dan kamu juga tidak gila: gambar kotakkotak atau tidak jelas di serial kartun itu hanya aksi tiputipu dan akal-akalan negara saja, karena negara mengalami paranoid yang berlebihan.

Bukan, tulisan ini bukan membahas tentang Blur, grup musik alternative rock asal Kota London, Inggris, itu. Saya hanya ingin memberi tahumu, Rayna sayang, soal kebijakan teknis penyiaran yang sekarang ini tengah marak dilakukan oleh stasiun televisi di Indonesia berkat anjuran dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Teknis penyiaran yang saya maksud adalah dengan mem-blur-kan atau membikin tidak jelas gambar/tayangan yang dianggap sebagai salah satu elemen pornografi atau hal lainnya yang bisa merusak, oh, moral bangsa.

Jadi begini, Ray. Sekarang ini kita — sebagai spektator pasif yang menyedihkan di dalam dunia spectacle yang semakin banal (dan, lucunya, kita dengan bangga mendaku diri sebagai “manusia modern yang beradab”) — harus membiasakan diri menonton tayangan wajah atau kepala seorang aktor/aktris menjadi blur karena asap rokok melayang-layang (layaknya gerak syahdu balerina) di depan wajahnya. Tidak ada jalan lain: gambar rokok dan asapnya harus dibikin tidak jelas karena dapat menyebabkan kanker, impotensi, serta gangguan kehamilan dan janin.

Bulan Februari kemarin, setelah Indosiar menyiarkan ajang Putri Indonesia 2016, banyak bermunculan tulisan dan meme bernada sindiran di jagat media-sosial. Penyebabnya sederhana: adanya gambar blur pada bagian paha dan dada perempuan di acara kontes kecantikan itu. Paha dan belahan dada perempuan dianggap sebagai pornografi yang bisa merusak mental dan, ehem, moral bangsa Indonesia. Dan yang lebih menggelikan dari teknis blur dalam penyiaran televisi Indonesia adalah Shizuka Minamoto (tokoh cantik dalam serial kartun Doraemon) dan Sandy Cheeks (karakter tupai dalam serial kartun SpongeBob SquarePants) juga menjadi korban dengan dibikin tidak jelas di bagian paha dan dadanya. (Padahal manusia hidup di dunia ini, katanya, butuh “kejelasan”, terutama perempuan. Bukan begitu, Kanjeng Ratu F? :p) Bahkan saya, pada sianghari, pernah menonton salah satu acara televisi dengan target pasar anak-anak yang mengulas tentang susu sapi dan tetek sapinya dibikin blur, kotakkotak tidak jelas. Betul sudah, Ray, bahwa saya dan kamu sekarang ini hidup di zaman di mana degradasi parah dirayakan dengan penuh kegembiraan. Ting-a-ling!

Sedemikian parahkah, er, moral (generasi muda) bangsa Indonesia saat ini sehingga mereka bakal terangsang jika menonton kutang Sandy atau paha dan kancut Shizuka? Apakah dengan menonton tetek sapi di layar televisi bisa membikin naluri seksualitas manusia tumbuh dan kemudian berkeinginan untuk memerkosa manusia lain atau sapi atau pohon atau tembok rumah atau knalpot atau apa pun secara serampangan? (Menurut saya, pemerkosaan atau pelecehan seksual adalah konsekuensi nyata dari sebuah budaya patriarki — dengan hierarkinya — yang menganggap bahwa satu jenis kelamin itu lebih unggul dari jenis lainnya [dalam hal ini saya membicarakan tentang lelaki yang selalu merasa bahwa perempuan adalah makhluk lemah dan, oleh karena itu, dianggap sebagai “warga kelas dua”] sehingga dia memiliki dorongan dan keinginan untuk mengeksploitasi apa pun yang dianggap lemah.) Pertanyaan selanjutnya adalah sebegitu besarnya kah ketakutan (paranoid) KPI — dan negara — sehingga apa-apa yang dinilai vulgar (oleh mereka) dianggap sebagai ancaman bagi generasi muda Indonesia dan harus dibikin blur?

Rayna, sayang. Hari ini, dunia pertelevisian Indonesia semakin sesak dengan tayangan sampah dan gambar blur. KPI merasa bahwa kebijakan blur ini dilakukan semata demi menyelamatkan dan menjaga martabat bangsa yang dikenal menjunjung tinggi etika ketimuran. Namun, sialnya, aksi itu hanya sebatas urusan teknis sensor-menyensor gambar doang! Sementara KPI tidak memiliki keinginan kuat untuk membersihkan dunia pertelevisian Indonesia dari tayangan sampah yang begitu banyak itu — macam sinetron, reality-show yang telah diskenariokan sebelumnya, kontes pencarian bakat dengan juri yang songongnya minta ampun, acara komedi dengan bully sebagai formula utama untuk membikin penontonnya tertawa, acara jogetjoget di pagihari, dll.

Ada ironi dan ambivalensi KPI perihal sensor-menyensor bagian tubuh perempuan di dunia pertelevisian Indonesia saat ini. Para selebritis perempuan yang memiliki payudara superbesar dan seringkali mengenakan baju serbaketat (sengaja) dibiarkan lolos sensor dengan alasan tidak ada kulit paha yang diumbar ke publik dan tidak terlihat garis belahan dadanya. Juga sinetron sampah dan acara kacrut yang menjual gaya hidup hedonisme, mengumbar kisah asmara menyemenye yang berlebihan, menyebabkan mata berkunang-kunang – hidung tersumbat – tenggorokan kering – kepala pusing sebelah – kebodohan akut (sengaja) dibiarkan tetap tayang. Pada kenyataannya, acuan KPI masih seputar halhal yang bersifat kasatmata (tangible), bukannya pada pesan, nilai, dan makna yang ada di balik sebuah acara (intangible).

Pada titik inilah kita (yang dengan congkak dan bangga mendaku diri sebagai “manusia modern yang beradab”) mengalami hal yang disebut dengan “fobia tubuh” di mana tubuh telah mengalami pergeseran makna dan ditafsir sebagai ancaman bagi keberlangsungan kehidupan. Padahal, asal kamu tahu Ray, peradaban Indonesia dibangun dari ketelanjangan (di atas tumpukan bangkai dan genangan darah makhluk hidup lain). Film Legong (1935) bikinan Henri de la Falaise, misalnya, yang menunjukkan bagaimana perempuan dan lelaki Bali zaman dulu menjalani rutinitas hariannya dengan bertelanjang dada.

Sejarah telah memberi tahu kita (para “manusia modern yang beradab” yang malah lebih mirip zombie) bahwa tubuh — terutama tubuh perempuan — mengalami dekonstruksi (jika tidak ingin bilang “degradasi”) tafsir seiring dengan berjalannya laju waktu. Sebagai fakta dan data sejarah, ketelanjangan tubuh sengaja diingkari. Padahal bertelanjang merupakan pengalaman paling egaliter antarmanusia dan pantas untuk dirayakan. Kita (sekumpulan “manusia modern yang beradab” yang sekarang ini hanya ahli dalam hal menggeser dan menyentuh ponsel-cerdas) menjadi gagap dalam mencerna persoalan (ketelanjangan) tubuh dan tidak bisa membedakan apa itu seksualitas, pornografi, gender, dan erotisme.

Oleh karenanya, Ray, apa-apa yang berhubungan dengan paha dan belahan dada wajib untuk disensor (jika perlu dihilangkan) karena dianggap sebagai pornografi yang merusak, oh, moral — tidak peduli apakah tayangan itu sebetulnya mencoba untuk memberikan informasi tentang sejarah gaya hidup dan budaya nenek moyang terdahulu. Yups, setelah “fobia komunisme” dan “fobia terhadap keyakinan/agama yang berbeda”, kini tubuh telah menjadi fobia baru di Indonesia. Dan KPI merasa berkewajiban untuk menjadi pasukan garda-depan yang bertugas menumpas pornografi atas-nama, ehem, moralitas dan etika ketimuran.

* * * * *

Pada tahun ini, KPI juga menyerukan — melalui surat edaran dengan nomor 203/K/KPI/02/2016 — agar stasiun televisi di Indonesia tidak menayangkan selebritis, mengutip surat edaran KPI, “Pria yang Kewanitaan”. Penyebabnya karena ada beberapa selebritis lelaki yang diindikasi melakukan pelecehan seksual terhadap beberapa bocah lelaki. Perilaku dan pembawaan tubuh para selebritis di panggung hiburan dianggap sebagai biang keladi kasus pelecehan seksual itu. Namun, sialnya, sampai saat ini masih belum ada penelitian ilmiah yang sahih untuk membenarkan asumsi itu.

Sebenarnya, Rayna sayang, kuasa tubuh lelaki yang menjadi feminin di panggung hiburan telah lama ada dan dapat ditelusuri dalam pertunjukan tradisi Indonesia. Salah satunya bisa dijumpai dalam pentas kesenian khas rakyat Jawa Timur, ludruk. Nyaris seluruh pemain ludruk adalah lelaki dan mereka merias tubuh sefeminin mungkin untuk memerankan karakter perempuan dalam ceritanya. Di luar pertunjukan ludruk, para pemain kembali menjadi (dan menjalankan fungsi sebagai) lelaki dalam kehidupan pribadi dan sosial mereka. Apakah dengan demikian pertunjukan ludruk menjadi acara yang tidak layak atau tidak pantas untuk ditonton dan ditayangkan di televisi karena ditakutkan bisa menjadi penyebab rusaknya, er, moral bangsa?

Satu contoh dari gemerlap dan banalitas dunia hiburan Indonesia adalah seorang pelawak bernama Kabul Basuki atau yang lebih dikenal dengan nama Tessy. Tessy sering tampil feminin, memerankan karakter perempuan, di setiap pertunjukan grup lawak Srimulat, namun dia sangat maskulin ketika sedang tidak melawak bersama grupnya. KPI pun lantas mencekal Tessy karena dianggap menularkan laku “tidak normal” yang suka mengenakan pakaian dan merias dirinya seperti perempuan. Namun di saat yang bersamaan dengan aksi pencekalan Tessy itu, Olga Syahputra dan beberapa selebritis lelaki lain yang berperilaku feminin diperbolehkan beraksi di TV dan ditayangkan hampir 24 jam! Kampret betul kan, Ray?

Apa yang salah dengan lelaki berwatak feminin? Jika itu adalah pilihannya secara sadar untuk menghidupi hidupnya dan dia merasa nyaman, lantas kenapa?

* * * * *

Mulai sekarang, sudah seharusnya kita (makhluk hidup yang mendaku diri sebagai “manusia modern yang beradab” namun suka sekali membantai mereka yang dianggap “berbeda”) lebih bijak dalam membaca dan memahami segala macam persoalan — termasuk urusan tubuh ini. Hari ini mungkin hanya paha dan belahan dada, selanjutnya bisa jadi bibir, lidah, janggut, leher, ketiak, perut, atau bahkan jari kaki yang harus dibikin blur ketika ditayangkan di televisi. Jika sudah begitu, Rayna sayang, negara mungkin bakal menyita semua televisi milik warganya dan mulai membagikan radio — bukan untuk didengarkan, namun untuk ditonton!

Ah, sudahlah. Semoga Stoya, Ladya Cheryl, kamu, dan anarki panjang umur. (Dan untuk V: semoga bapakmu yang menyebalkan itu segera dikubur — atau, setidaknya, wajahnya dibikin blur.) Dan Rayna sayang, intinya adalah jangan pernah kamu memercayai negara dan kapitalisme — keduanya harus dihancurkan secara bersamaan!

Tabik. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s