Tentang membaca

Mélanie Laurent dalam film "Inglourious Basterds"
Mélanie Laurent dalam film “Inglourious Basterds”

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta — maaf belum bisa menepati janji memberimu buku bacaan sebelum tidur dan mainan yang kamu idam-idamkan.

Kalau Allah ketemu Nabi Muhammad di zaman sekarang, pasti bikinnya film. Generasi kita nggak mempan dikasih tulisan. Kita ini generasi ‘gets philosophy in the movie’.
— Annisa, dalam film Cin(T)a

The Straits Times pernah menayangkan artikel berjudul Upbeat Jokowi plans to woo Singapore investors during visit yang berisi video wawancaranya dengan Jokowi. Dan sial bagi Jokowi, dalam video berdurasi satu menit itu ketidak-fasihan, kekakuan, dan keterbatasan kosakata yang diucapkannya untuk menyampaikan maksud dan menjawab pertanyaan wartawan dalam wawancara tersebut malah menjadi bahan lelucon lain bagi para penghuni dunia(nya) maya (septha) yang budiman.

Setelah menonton video tersebut — saya yakin video wawancara itu bakal membikin mama saya, yang juga omak-mu itu, menyunggingkan senyum sinis menghina kekakuan Jokowi dalam berbahasa Inggris, Ray — saya lantas bertanya-tanya mengapa Jokowi tidak menggunakan bahasa Indonesia saja dalam wawancara tersebut? Toh, menurut saya, Jokowi yang merupakan seorang presiden bisa dan sah-sah saja mengomunikasikan pendapatnya dalam bahasa Indonesia. Sebagai seorang Presiden Indonesia, Jokowi harusnya yakin bahwa bahasa Indonesia juga memiliki martabat yang sama dengan bahasa-bahasa lain di muka Bumi ini, sehingga dia tidak perlu memaksakan diri berbicara dalam bahasa yang membikinnya kesulitan dan terlihat lucu. Sumpah demi apa pun Ray, memaksakan diri itu tidak enak.

Jokowi juga kan nggak terlalu bagus dalam berbahasa Indonesia,” ujar Kanjeng Ratu F di sebelah saya menanggapi setelah menonton video tersebut. Ah iya Ray, itu juga menjadi persoalan Jokowi, setidaknya bagi saya dan, mungkin, bagi Kanjeng Ratu F. Apa lacur? Karena sejauh yang saya simpulkan setelah menyaksikan tayangan demi tayangan Jokowi berbicara di depan kamera, pak presiden yang katanya merakyat karena memiliki senyum a la tukang mebel itu juga memiliki kosakata yang terbatas dalam berbahasa Indonesia.

Mungkin sudah menjadi rahasia umum bahwa Jokowi bukanlah ahli pidato dan, tampaknya, dia tidak menyukai pemikiran yang rumit. Pendekatan Jokowi cenderung pragmatis, seperti pesan yang disampaikannya untuk mengakhiri sesi wawancara dengan wartawan The Straits Times itu. Dengan kosakata yang terbilang minim, Jokowi selalu terlihat menyampaikan hal yang itu-itu saja dan dengan cara yang juga itu-itu pula. Pengulangan yang membosankan. Klise Ray, klise. “Ah setidaknya Jokowi lebih fasih berbahasa Indonesia ketimbang bahasa Inggris,” ucap saya menanggapi kata-kata Kanjeng Ratu F itu.

Lain Jokowi, lain pula Vicky Prasetyo. Ketika Jokowi terlihat wagu dalam berbahasa Inggris dan menimbulkan respons olok-olok dari netizen, Vicky telah lebih dulu mengocok perut dengan gaya berbahasa Inggris serta Indonesia-nya yang entah, aneh, dan menjurus ngawur, Ray. Kita semua, orang-orang dewasa yang dikalahkan arus peradaban urban, serempak menertawakan Vicky dan gaya bicaranya, menjadikan mantan tunangan penyanyi dangdut itu sebagai hiburan melepas penat setelah seharian dihantam tugas kantor yang menyebalkan. Namun, selain menjadikannya sebagai sekadar bahan hiburan dan olok-olok, saya juga menganggap hal ini sebagai persoalan. Minimnya kosakata yang dimiliki oleh beberapa orang pasti ada penyebabnya, Ray. Dan hal itu bisa menjadi persoalan akut dalam hal komunikasi kita.

Rayna, sayang. Ada yang bilang bahwa persoalan atau masalah itu hanyalah perihal perspektif, perihal cara pandang kita terhadap segala sesuatu yang kita hadapi. Ada yang menganggap bahwa suatu hal adalah persoalan rumit, namun di sisi lain, ada yang menganggap bahwa itu bukanlah suatu masalah sama sekali. Sekali lagi Ray, itu perihal perspektif. Ada masalah atau persoalan yang bisa dengan mudah dan cepat kita selesaikan, namun ada juga permasalahan yang tampaknya mengabadi — bakal terus-terusan menjadi masalah dan akhirnya selesai dengan sendirinya ketika kita mati nantinya. Begitulah, Ray, dan di dunia yang semakin tidak baik-baik saja ini, ketidak-mampuan seseorang dalam mengomunikasikan pendapatnya atau pemikirannya karena minimnya kosakata yang dia miliki adalah permasalahan yang harus diselesaikan, setidaknya bagi saya.

Novelis Rusia-Amerika, Vladimir Nabokov, pernah mengatakan bahwa “pembaca yang baik memiliki kekayaan kosakata, kepekaan artistik, ingatan, dan imajinasi — dengan begitu, kamu akan mampu menyampaikan pendapat dan pemikiranmu dengan cara yang cerdas”. Meluangkan waktu untuk membaca karya-karya literatur atau teks di dalam buku secara tidak langsung mengajarkan bagaimana caranya mengomunikasikan pemikiran kita dengan cara yang paling baik. Dari membaca, kita bakal bisa belajar mendapatkan sudut pandang yang baru dan lebih segar dalam menghadapi persoalan.

Sudah banyak tersebar pesan yang memberitahukan tentang keuntungan yang bisa diperoleh dari suka membaca, di antaranya: melatih imajinasi, memiliki pengetahuan yang lebih luas, memiliki kosakata yang lebih banyak, memiliki kemampuan analisis yang cemerlang, mampu menghilangkan stres, dll. Saya yakin Ray, manusia-manusia keren — macam Thom Yorke, Pramoedya Ananta Toer, Lars von Trier, Jostein Gaarder, Guy Debord, Friedrich Nietzsche, Luis Buñuel, Chairil Anwar, atau yang lainnya — mendapatkan inspirasinya karena banyak membaca (dan merokok). Mereka terinspirasi dari teks, literatur, dan buku yang mereka baca, karena seperti kata Chelsea Islan: “Kecerdasan pertama akan melahirkan kecerdasan berikutnya, kebodohan pertama akan melahirkan kebodohan berikutnya.

Dalam karya-karya fiksi luar negeri sering ditemukan ada beberapa tokoh yang memiliki hobi membaca dan mereka selalu ditampilkan sebagai karakter yang penuh imajinasi, cerdas, dan banyak akal. Roald Dahl melalui novel anak-anak berjudul Matilda menampilkan sosok gadis kecil cerdas dan hobi membaca bernama Matilda Wormwood; Shosanna Dreyfus, dalam film Inglourious Basterds (2009), sangat suka mojok menyesap kopi sembari merokok dan membaca buku di kafe; di novel fiksi Harry Potter karangan J.K. Rowling ada Hermione Granger; film Dead Poets Society (1989) menceritakan kumpulan siswa yang terobsesi dengan buku puisi Walt Whitman; tokoh Belle yang sangat mencintai buku muncul dalam film Beauty and the Beast (1991); dll.

(Selalu menyenangkan bagi saya, Ray, ketika mengetahui ada individu — baik itu anak kecil maupun orang dewasa — yang memiliki kegemaran membaca berbagai macam hal, mulai dari teks, novel, majalah, literatur, komik, dll., lebih tepatnya sih iri, sebab sewaktu kecil dulu saya tidak bisa seperti itu. Bacaan saya sewaktu masih kecil hanya dua, Ray: majalah Sinar Harapan dan tabloid Bola. Pertanyaan di antara anak-anak remaja di luar negeri sana pun seputar bulan ini sudah menghabiskan berapa buku bacaan, sementara di sini perbincangan anak remajanya hanya soal besok mau beli produk tren apa. Menyedihkan.

Pada saat beranjak dewasa, barulah saya mengenal bacaan lain. Novel Harry Potter — terimakasih untuk Mbak Tya dan Risang Suryo Sumirat yang dulu selalu meminjami novel ini — menjadi bacaan pertama saya selain majalah Sinar Harapan dan tabloid Bola. Setelah itu saya semakin gemar membaca dan ketagihan untuk menghabiskan literatur dan buku-buku lain, kebanyakan adalah teks, literatur, dan buku-buku anarkis. Dan semakin ke sini, saya akhirnya semakin membenci negara, moralitas, kapitalisme, tuhan dan agama, serta diri sendiri — but, I love you.)

Para seniman di sini jarang sekali menciptakan tokoh yang suka membaca dalam karya-karya mereka. Jadi kehidupan di dalam karya fiksi para seniman di sini, di Indonesia, kurang lebih memiliki kondisi yang sama dengan kehidupan sosial yang kita kenal sehari-hari, Ray: sama-sama tidak banyak yang suka membaca. Iya, Rayna sayang. Tidak suka membaca bukanlah hal unik bagi masyarakat Indonesia — itu merupakan hal lumrah bagi sebagian dari kita di sini. Ketidak-gemaran membaca bisa dibilang sebagai masalah abadi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Apalagi di zaman modern yang selalu menuntut agar apa-apa dilakukan dengan instan dan serbacepat seperti sekarang ini, banyak orang-orang di sini yang lebih sibuk memandangi ponsel-cerdas mereka ketimbang meluangkan waktu untuk membaca teks, literatur, atau buku. Kondisi seperti ini bukanlah hal alamiah yang terjadi begitu saja, Ray, melainkan memang ada beberapa pihak yang tidak menginginkan pihak lainnya untuk membaca, untuk mengakses ilmu pengetahuan.

Kebiasaan kurang membaca sewaktu saya masih kecil dipengaruhi oleh sedikitnya (atau seingat saya malah tidak ada sama sekali) taman baca, toko buku, dan perpustakaan di kampung halaman saya, Pasuruan — kalah banyak dengan showroom dan dealer motor/mobil serta toko komoditas lain. Hal ini juga ditambah dengan kenyataan bahwa pada saat itu, saat-saat di mana Soeharto dan Orde Baru-nya masih berkuasa, pemerintah melakukan sensor ketat terhadap bahan bacaan, bahkan terhadap apa pun, dan ayah-mama saya — opak-omakmu itu, Ray — adalah salah satu partisipan Soeharto yang paling loyal. Klop sudah!

Akses pengetahuan itu seharusnya gratis, tersebar ke segala penjuru, dan bisa dinikmati oleh semua orang, sebab pada dasarnya kita memang tidak bisa merasa memiliki “hak istimewa” untuk membatasi atau menyimpan (akses) ilmu pengetahuan hanya untuk diri sendiri. Namun di Indonesia ini, Rayna sayang, persebaran teks, literatur, dan buku bacaan untuk menambah pengetahuan itu (sengaja dibikin) tidak merata. Tamak dan rakus terhadap apa pun — tidak terkecuali ilmu pengetahuan — serta egois, yang menjadi sifat alamiah dari manusia, membikin orang-orang di sini merasa memiliki “hak istimewa” untuk menyimpan (akses) ilmu pengetahuan agar bisa dinikmati sendiri — “persetan jika manusia lain menjadi goblok karena ketamakan, kerakusan, dan keegoisan kita”.

Hal di atas mungkin terdengar seperti pesan dari seorang moralis-ngehek-yang-bau-amis, namun mau bagaimana lagi, hal itu memang menjadi poin awal, sebuah titik keberangkatan dari upaya untuk memeratakan persebaran pengetahuan melalui teks, seni, literatur, buku, atau apa pun. Masalah selanjutnya adalah argumen di atas bakal seketika hancur berantakan jika dihadapkan dengan prinsip untung-rugi a la sistem kapitalisme bangsat yang saat ini diamini oleh banyak orang itu, Ray.

Rayna, sayang. Kamu mungkin akan mendengar pendapat yang mengatakan bahwa keberuntungan seorang manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh seberapa banyak buku yang sudah dia baca. Mungkin kamu bakal diberikan contoh bahwa ada manusia yang bisa sukses — menurut pengertian dan perspektif mereka sendiri mengenai kesuksesan — dalam menjalani kehidupan meski jarang, atau bahkan tidak suka, membaca: selebritis, politikus, pengusaha, pegawai negeri sipil, dan ada juga yang berhasil menjadi presiden. Itu betul Ray, dan kamu boleh-boleh saja untuk memercayainya. Dan jika memang itu yang kamu yakini, Ray, maka kamu berarti sudah mantap untuk menjadi bagian dalam masyarakat yang gemar sekali merayakan kehidupan banal yang dibangun dari campuran kepengecutan, kepatuhan, dan kebodohan sekrup-sekrup mesin kapital tanpa hasrat.

Semoga kamu tidak menjadi seperti itu, Rayna kesayangan. Tetaplah kamu menjadi bocah nakal yang memiliki kaki dan hati sekuat jati, serta isi kepala yang tidak lupa berotasi. Mulailah menggemari buku, membaca apa pun, namun jangan sampai hal itu malah membikinmu berhenti bermain di luar rumah bersama kawan-kawanmu. Intinya adalah persenjatai imajinasimu untuk menghadapi dunia jahanam ini dengan membaca dan bermain, serta jangan berhenti bertanya!

* * * * *

Dan untuk Kanjeng Ratu F: tenang saja mbak, saya tidak akan pernah menyamakanmu dengan V; kalian adalah dua individu berbeda dengan keunikan masing-masing yang, entah kenapa, bisa-bisanya jatuh pada pelukan saya. Kecup mesra, dua-duanya! {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s