Kita masih terus berlari, sementara rindu tertinggal menunggu mati

Kita masih terus-terusan berlari — matahari tetap saja tinggi
harapan dan hasrat jadi anak tiri, ditinggal pergi ibu peri
tunggu sebentar, ada secangkir kopihitam yang harus dihabisi
tunggu sebentar sayang, sebatang rokokputih sudah siap untuk dihabisi.

Kita teruskan berlari lagi — matahari masih meninggi
harapan dan hasrat telah dikebiri, tinggal menunggu mati
berhenti sebentar, untuk mengistirahatkan hati
berhenti sebentar sayang, duduk sekadar meregangkan kaki
atau menertawakan diri sendiri.

(Sisa aroma kopi menghitam di dindingdinding kamarmu
sisa nikotin rokok menguning di langitlangit kamarmu
sisa renyah tawa membiru di kolong tempat tidurmu
seperti rindu yang mati di setiap Sabtu.)

Sebelum manusia sok suci datang menghakimi,
biarkan aku mencumbuimu hingga matahari tidak lagi tinggi;

( … )

dan untuk selanjutnya, perayaan telah usai
hasrat dan harapan, bersama rindu, sudah mati. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s