Imajinasi yang tidak pernah utuh

Dear V,.

Saya merasa lelah berpetualang. Mencarimu sampai ke ujung malam paling kelam. Tidakkah kamu melihat bahwa tungkai saya seringkali merintih letih? Bisakah, sekali saja, kamu datang dan kita bisa duduk di bangku taman? A couple of smokes, a cup of coffee, and a little bit of conversation. Tidak usah bicara cinta, mari bicara tentang cuaca. Tentang pergerakan arah angin dan awan-awan, tentang senja yang lambat-laun mulai memerah bercampur darah, atau tentang kerlip bintang Vega di langit utara. Apa pun itu hingga kita mati bosan, asal jangan bicara cinta, seperti yang kamu takutkan.

Kerinduan untukmu tidak lagi memiliki satuan waktu. Saya ingin sekali mengatakan bahwa detik dan derap jarum jam tidak pernah menjadi sahabat ketika menungguimu. Surat-suratmu yang dulu, saya simpan di dekat jendela agar angin bisa mengabarkan aroma tubuhmu kepada gunung-gunung, kepada derak patah pepohonan yang ditebangi di kotamu, kepada awan-awan penenun hujan yang tidak lagi berguna untuk menyuburkan tanah sebab sawah-sawah telah digusur paksa oleh para pengusaha dan penguasa di kotamu.

Saya berjalan, sesekali berlari, dari tepi kota ke tepi yang lain untuk mencari apa yang kamu sebut sebagai perlawanan terhadap segala macam kekalahan dan ketakutan. “Pergilah. Lawan dunia dengan mimpi besar untuk cinta,” katamu saat itu. Andai kamu tahu betapa malam seringkali teramat hitam dan kelam ketika mengingatmu tidak memiliki atap, tidak memiliki apa pun untuk berdamai dengan dingin.

Jika saja cinta bisa ditakar, maka kedalaman dada saya bakal menghancurkan semua timbangan. Jika saja cinta bisa dinamai, betapa jutaan kata tidak akan sanggup merangkai apa yang berderap di dalam sini. Imajinasi saya tidak pernah utuh, kamu selalu kembali menjadi bayangan yang begitu jauh.

Oh sayang, jika saja kita dapat melupakan — meski hanya sebentar — semua kesengsaraan yang menyedihkan hanya untuk menikmati sejenak keegoisan kita, menenggelamkan hati kita berdua dalam pelukan semesta. Saya mencintaimu dalam kesunyian, kelembutan, dan keegoisannya, dengan bara balas dendam dan pemberontakan.

Sebab nyala saya tidak saja oleh sekadar api. Oh puan betina, saya pun mesti disuguhkan sunyi. Dan ditiupi hening kecupan dari bibirmu.

{}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s