18 September: anggap saja ini semacam doa

#Untuk mama, dan kasih sayangnya. Jujur, ketika bangun pagi tadi saya tidak memiliki firasat apa pun tentang bagaimana seharusnya hari ini berjalan. Maksud saya -- hari ini sama seperti waktu yang telah lalu: hari yang biasa saja, sama halnya dengan hari-hari sebelumnya pada deretan almanak yang telah membusuk terkubur rutinitas harian agar bisa sekadar bertahan …

Continue reading 18 September: anggap saja ini semacam doa

Advertisements

Subuh membiru

Ada yang menarik pelatuk di detik jam dindingmu jantungku pecah semburat merah di situ serupa hewan buruan, aku rubuh di luas wujudmu sebelum hujan subuh, sebelum tragis membiru. Tidak ada kupu-kupu terbang di luar sana -- hanya langit kusam seonggok kenangan menggigil dalam genggam sekerat demi sekerat rindu dicincang pisau sunyi ditumbuk batu sepi dibilas …

Continue reading Subuh membiru

Jika bukan ini, lalu apa? #4

Kita melahirkan dan dilahirkan oleh jiwa yang tidak kita kenal----- ----kita adalah teka-teki yang tidak teterka siapa pun kita adalah dongeng yang terperangkap dalam khayalannya sendiri kita adalah apa yang terus berjalan, tanpa pernah tiba pada pengertian. {}

Thukul

(Dalam diam engkau masih bersuara melalui goresan makna tersimpan dalam bait-bait aksara.) Aku tahu, aku tidak pernah ada dalam hidupmu namun sejarah telah membikinku takjub dan membangkitkan gairah nalarku juga amarahku untuk meneruskan nafasmu dengan jiwa yang bukan milikku sebab jasadmu tidak pernah kembali. (Dalam diam engkau masih bersuara melalui goresan makna tersimpan dalam bait-bait …

Continue reading Thukul

#BanalitasHarian: sepenggal demi sepenggal yang masih bisa diingat

Tidak ada satu sumber penerangan apa pun di sekeliling saya. Semuanya hitam. Segalanya gelap. Beberapa saat kemudian, sayup-sayup terdengar suara perempuan: familier, tapi jauh dan pelan. Saya berjalan mencari sumber suara itu, atau setidaknya saya merasa seperti sedang berusaha berjalan menuju suara samar-samar itu. Dengan perlahan, suara itu terdengar semakin jelas dan sedang berbicara kepada …

Continue reading #BanalitasHarian: sepenggal demi sepenggal yang masih bisa diingat

Rangkaian ironi itu bernama negara

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta: kamu harus mulai mengetahui bahwa apa-apa yang ada di dalam (struktur) negara itu selalu berlawanan dengan kesetaraan, kebebasan, dan kebahagiaan. Rayna sayang,. Terkadang saya membayangkan apa-apa yang sedang tumbuh dan berkembang di dalam negara layaknya sebuah cerita yang sedang digarap dan dikembangkan oleh seorang penulis. Saya menyamakan kondisi negara -- …

Continue reading Rangkaian ironi itu bernama negara

Tiang lampu di depan rumah

Tiang lampu berdiri di depan rumah berwarna biru kepalanya menunduk lesu mengawasi lelaki yang gelisah menunggu di ambang pintu. Ketika cahaya lampu menyala setengah redup dan tersenyum lugu perempuan datang dari balik petang memanggul cenderamata: sebungkus cemas dan bimbang, sekarung emosi yang gampang meledak sesuka hati ~ ~ dan sebuah buku bersampul abu-abu tentang cara …

Continue reading Tiang lampu di depan rumah