Tiang lampu di depan rumah

Tiang lampu berdiri di depan rumah berwarna biru kepalanya menunduk lesu mengawasi lelaki yang gelisah menunggu di ambang pintu. Ketika cahaya lampu menyala setengah redup dan tersenyum lugu perempuan datang dari balik petang memanggul cenderamata: sebungkus cemas dan bimbang, sekarung emosi yang gampang meledak sesuka hati ~ ~ dan sebuah buku bersampul abu-abu tentang cara …

Continue reading Tiang lampu di depan rumah

Lebaran, atau apalah itu namanya

Di lebaran kali ini… Jangan lupa merangkai kalimat paling tulus dan indah untuk kamu kirimkan ke keluarga, kekasih, dan kawan-kawanmu, yang sekaligus pula untuk membungkus kebangsatanmu di depan mereka. Jangan lupa unggah swafoto-mu ketika makan ketupat bersama sang kekasih agar seluruh dunia tahu bahwa kamu tidak sendiri lagi pada edisi lebaran tahun ini. Oh iya, …

Continue reading Lebaran, atau apalah itu namanya

Lupa

Seisi kota lupa langit gulita sebab tidak ada bedanya toh siang-malam sama pekatnya tawa kian lantang di pesta-pesta lupa bahwa luka masih nganga. -- Ah, aku juga lupa bir dan bibirku sama-sama berbusa. {}

#BanalitasHarian: masih yang itu-itu juga

Sederhananya, beberapa hal yang saya konsumsi dalam tujuh hari terakhir ini. Apa yang saya dengarkan? [1] x (2014) dari Ed Sheeran: emosi setiap orang, lirik gamblang, dan rasa sakit yang bisa dikaitkan ke semua orang. Itulah cetak-biru Ed Sheeran di album ini, dan kita -- saya dan kamu -- pernah merasakan apa-apa yang dinyanyikan oleh …

Continue reading #BanalitasHarian: masih yang itu-itu juga

Rindu macam apa yang kita semai?

Kerinduan menjelma simbol dan angka dikirim sinyal lewat udara dan diterima oleh mesin-mesin tunai rindu macam apa yang sebenarnya kita semai? Kerinduan yang berupa nominal mengalahkan jantung yang mewujud lautan tidak terukur kedalaman dengan simbol dan angka. Kutampung rintik lemah hujan senja namun tetap saja tidak bisa membeli pulsa sebagai bekal untuk sekadar menyapa: “sayang, …

Continue reading Rindu macam apa yang kita semai?

Nyeri

Nyeri bukan sebab luka sayat di jantung persegi ketika aku, tanpa ibu-ayah, menjalani hari-hari sendiri nyeri ada sebagai bekal kelahiranku di Bumi rasa sakit purba yang tidak seorang pun bisa memahami lebih asing ketimbang tuhan atau cinta itu sendiri. ~ Nyeri ini kunamai puisi. {}

Kepada tubuh

Kaki tiba-tiba patah tidak bisa dipakai melangkah. Tangan pun mendadak runtuh tidak bisa lagi merengkuh. Bibir malah lebih dulu pecah tak tersisa celah untuk bersumpah. Hanya pada mata yang rapuh ada rindu dan cinta terjaga utuh. {}