Pecah seperti cangkir kopi yang jatuh dari meja makan — dan pagi bakal merapikanmu kembali…

Padamkan lampu kamar tidurmu kenakan kacamata hitam itu pejamkan matamu biar gelap menjadi lebih hitam lebih kelam dari malam ini saatnya menutup diri dari keramaian mengurai keluh, mengistirahatkan lelah kepadamu, aku mungkin bakal datang sebentar lagi dengan sisa kopihitam di pangkal lidah dan aroma rokokputih dalam pendar cahaya lilin kecil mengecupmu, mengajakmu menari menyesap ekstase …

Continue reading Pecah seperti cangkir kopi yang jatuh dari meja makan — dan pagi bakal merapikanmu kembali…

Advertisements

Kepada perempuan yang menyelipkan doa di balik jendela

Saya melihatmu menyimpul luka dengan tatap hitam yang berdiam kelam, mengumpulkan kepak malam di wajah. Ada sayap yang kamu patahkan di sela-sela ikatan karena gema jantungmu terlahir untuk binasa. Pekat sungguh cerdik mendekapmu, menarikmu dalam kesunyian yang rumit, dan mengabadikan diri pada jantung persegi yang pandai memeluk rahasia dengan erat. Utuh cintamu tidak pernah cukup …

Continue reading Kepada perempuan yang menyelipkan doa di balik jendela

Sanstitre #26

Aku mencintaimu, karena seringkali kusesap ranum tubuhmu kamu -- yang tidak bisa kusebut sebagai ibu kamu -- yang tidak bisa kusebut sebagai saudari seibu, namun bukankah kamu lebih dari itu? Kepada semua sapi dan kambing di Bumi aku juga menyayangi mereka layaknya saudara sebab pernah kucampurkan susu ibu mereka ke lipatan roti tawarmu atau pekat …

Continue reading Sanstitre #26

Yang tidak pernah memiliki tidak bakal pernah merasa kehilangan

/1/ Begini saja: Saya bunuh dirimu. Saya bakar jasadmu. Saya minum abumu. Agar tulang-tulang mengeringmu merasuk dalam tubuh saya. Agar bisa menyatu, lalu saya genapi resahmu. Hingga akhirnya menunggu waktumu untuk menjadi kotoran. Agar saya tahu, “yang suci adalah yang hina, dan yang hina adalah yang suci”. /2/ Begini saja: Saya kekang isi kepala dengan …

Continue reading Yang tidak pernah memiliki tidak bakal pernah merasa kehilangan

Tengah malam #3

Sore itu kita bisa saja terbang bersama menyusul senja di mana kita pernah mengira bisa bersama kita bakal mengenang malam-malam sesudahnya bahkan saat kita telah berada di pagi yang sama sekali berbeda rasa. Aku merenungi angin dengan penderitaan yang kurayakan bersama kembalinya senja di pelataran aku mengira kita bakal bertemu kembali setiap malam di jalanan …

Continue reading Tengah malam #3

Lelaki yang menua dipeluk rantau

Akulah lelaki yang menua dipeluk rantau di tanah asing banyak musim dan masa tenggelam ingatan dan kenangan yang tertinggal menjadi silam gagang sapuku patah, cangkir kopiku seringkali kering pintu dan jendela seolah menunggu bagaimana kabar ranah bagaimana kabar orang di rumah adakah pohon belimbing di halaman samping itu masih berbuah atau kumpulan bunga dalam pot …

Continue reading Lelaki yang menua dipeluk rantau

“Pasangan Bebal dari Utara”

Tidak ada seorang pun yang menyalakan lilin untuk kemudian menyembunyikannya di balik pintu: keberadaan setitik cahaya adalah untuk menghasilkan lebih banyak cahaya, untuk membuka dan menerangi mata orang-orang, untuk menyingkap hal-hal menakjubkan yang ada di sekitar. Tidak ada seorang pun bakal mengorbankan hal terpenting yang dia miliki: cinta. Tidak ada seorang pun yang akan menitipkan …

Continue reading “Pasangan Bebal dari Utara”