Menu hari ini

Menu hari ini

Beberapa abad dari sekarang, ketika para sejarawan ingin mengetahui jenis-jenis orang sinting pada awal abad ke-21, yang perlu mereka lakukan hanyalah melihat dokumen dalam komputer tentang restoran-restoran ‘top’.

Makanan bukan hal yang penting dalam novel. Latar waktu bakal terus berjalan dalam kehidupan seorang tokoh rekaan tanpa satu pun deskripsi tentang camilan yang dia makan. Jarang sekali ada momen di antara rangkaian kata dalam sebuah cerita yang diisi dengan pemaparan pisang goreng paling menggiurkan. Jadi, tidak terlalu mengherankan bila ada begitu banyak lakon dalam fiksi kontemporer yang cenderung membosankan: mereka sebenarnya tidak sedang mengalami keputus-asaan atau kehilangan harapan, mereka cuma lapar. The Dinner (terjemahan Yunita Candra yang diedarkan oleh Penerbit Bentang [cetakan pertama, April 2017]), novel populer karangan Herman Koch, adalah pertunjukan ketangkasan yang cukup mengasyikkan: tonil yang dikalibrasi secara cermat dari sudut pandang “si narator yang enggak bisa diandalkan dan semakin meresahkan”. Koch membangun ceritanya di antara satu hidangan restoran yang penuh, di mana kekejian, kegilaan, kebencian, dan kegelisahan orang-orang Eropa sangat banyak tertuju pada menu makanan di restoran-restorannya. Keempat protagonis buku ini sesekali meninggalkan meja makan malam mereka, menuju ke toilet atau taman atau ruang memori kilas-balik di batok kepala. Tetapi, pada sebagian besar alur cerita, empat pelakon utama dalam kisah ini menghabiskan waktu dengan duduk dan saling memandang satu sama lain saat malam yang menyedihkan itu berlangsung.
Continue reading “Menu hari ini”

“Religulous” (2008)

Poster film “Religulous”. (gambar: IMDb)

Saya bakal mencoba mendeskripsikan Religulous, film dokumenter arahan Larry Charles dari naskah skenario yang ditulis oleh Bill Maher, tanpa perspektif agama atau sentimentalitas kepercayaan apa pun. Di sini saya memfungsikan diri sendiri sebagai penonton yang pengin bercerita tanpa kecenderungan untuk berbuat jahat tentang karya sinematik-manis yang barusan saya tonton bersama Si Nyonya Tua V– sambil leyeh-leyeh dan ngemil kacang kara, sementara kesayangan kami masih tertidur pulas dalam pelukan omaknya di kamar. Saya tidak ingin mengipasi bara api perang suci. Film ini tentang kritik cerdas dan eksaminasi terhadap agama-agama mapan yang terorganisasi: Yudaisme, Mormonisme, Kristen, Katolik, Islam, Evangelikalisme di televisi, dan bahkan Scientology, dengan jalan memutar ke pemujaan berhala dan kepercayaan Mesir Kuno. Maher — seorang komedian, komentator politik, penulis, aktor, dan pemandu acara televisi asal Amerika Serikat — meyakini bahwa agama dan para penganutnya adalah sebentuk kegilaan, dan khawatir mereka bisa menuntun manusia dengan penuh doa ke dalam malapetaka nuklir. Film ini tidak menyinggung tentang Hindu atau Buddha, tetapi saya yakin-seyakinnya kalau Maher juga enggak menyetujui cetak-biru ajaran dua agama tersebut.
Continue reading ““Religulous” (2008)”

Masuk sampah, keluar sampah

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta: setiap orang berpikir dengan cara mereka sendiri, dan dunia bakal selalu berbeda di dalam pikiran masing-masing orang.

Rayna, sayang,.

Mendiang Tony Buzan, seorang penulis dan konsultan pendidikan asal Inggris yang memopulerkan ide kecakapan mental dan teknik berpikir yang dikenal dengan sebutan “pemetaan pikiran” (mind mapping), menawarkan argumen bahwa pikiran manusia adalah alat yang bekerja nyaris sempurna untuk mewujudkan keberhasilan. Tetapi ada banyak orang yang merasa dirinya gagal. Dalam tafsiran Buzan, hal itu tidak sepenuhnya benar: mereka cuma keliru merumuskan diri sendiri. Alih-alih gagal, mereka sebenarnya telah berhasil merangsang pikiran untuk membentuk diri sendiri menjadi semacam itu: pemurung tolol yang kesepian, penguasa jahanam yang otoriter, pengeluh tengik yang enggak mampu bangkit dari tragedi, pencinta lapuk yang merindu-dendam, pengamuk bengis yang selalu menyalahkan orang lain, pengacau laknat yang banyak bacot, dan lain-lain. “Pikiran kita hampir tidak pernah gagal,” ujar Buzan.
Continue reading “Masuk sampah, keluar sampah”

“War for the Planet of the Apes” (2017)

“War for the Planet of the Apes” (2017)
Poster film “War for the Planet of the Apes”. (gambar: “PosterSpy”)

Ada adegan menjelang ujung War for the Planet of the Apes yang begitu memesona dan rangkaian gambar semacam itu sudah lama sekali enggak saya temukan dalam film-film blockbuster Hollywood, sebentuk momen kejernihan sinematik yang meriah sekaligus mengerikan yang bakal saya simpan lekat-lekat dalam kapasitas memori saya yang semakin rongsok. Saya mencoba menapak-tilasinya dengan enteng-enteng saja di sini, dan saya yakin kalau apa pun yang saya bacotkan di ulasan kali ini tidak bakal merusak kekuatannya.
Continue reading ““War for the Planet of the Apes” (2017)”

“Still Walking” (2008)

Poster film “Still Walking” versi “The Criterion Collection”. (gambar: IMDb)

Nyaris semua film drama keluarga kasi-pamer terlalu banyak melodrama yang banal. Dalam kebanyakan keluarga, masa lampau dan masa kini tidak pernah bisa menemukan resolusi selama periode kumpul-kumpul tahunan — enggak peduli seberapa banyak kamu sudah menonton film tentang momen semacam itu. Permasalahan keluarga yang menyakitkan dan menyebalkan lebih mungkin tetap terpendam di bawah pretensi keramahan yang tampil di permukaan: semua anggota keluarga tahu namun tidak ada yang mau membahasnya secara gamblang. Still Walking, sebuah karya sinematik-manis dari Jepang, benar-benar memahami hal-hal seperti itu.
Continue reading ““Still Walking” (2008)”

“Belle de Jour” (1967)

“Belle de Jour” (1967)
Poster film “Belle de Jour”. (gambar: “Criterion”)

Saya masih ingat — beberapa menit setelah kelar menonton film Eyes Wide Shut (1999, Stanley Kubrick) pada satu sore yang lembab, saya malah kepikiran film lain dengan tema serupa: Belle de Jour karya Luis Buñuel yang berkisah tentang seorang istri muda dari golongan priayi yang diam-diam bekerja parowaktu di rumah bordil. Bintang film terkadang membikin “sejarah / latar belakang” rekaan untuk karakter yang mereka mainkan di layar — hal-hal personal yang cuma mereka saja yang tahu. Sebagai penonton, saya juga punya kebebasan untuk membayangkan kisah masa lalu dari satu-dua karakter film yang tidak ditampilkan di layar secara gamblang. Dan karena itu, sehabis menuntaskan Eyes Wide Shut, saya yakin seyakin-yakinnya kalau film favorit Alice Harford — protagonis perempuan Eyes Wide Shut yang diperankan oleh Nicole Kidman — adalah Belle de Jour.
Continue reading ““Belle de Jour” (1967)”

#PansLabyrinth: daya untuk mengenyahkan Kegelisahan

Akhir Oktober 2017 dan saya sedang berjalan-jalan di alun-alun Kota Malang bersama kawan perempuan saya, Mbak AR–, setelah kelar berpelesir di toko buku sekitaran situ. Kami melewati empat turis yang mengobrol dalam bahasa Inggris. Kami melewati sekumpulan bocah cekikikan bersenang-senang di area taman bermain. Kami melewati beberapa mahasiswa dan mahasiswi membagi-bagikan selebaran promosi acara nonton bareng dan diskusi dua film (saya lupa judulnya) yang diangkat dari dua novel kenamaan. Kegelisahan dari nostalgia tidak mengenakkan tentang sebuah zaman apokaliptik yang membesarkan saya tiba-tiba menyergap dan saya merespons dengan mendadak berhenti di depan mahasiswi-mahasiswa tersebut. Salahsatu mahasiswi rada manis mengembangkan senyum terkejut, kemudian memberi saya satu selebarannya, dan saya melanjutkan perjalanan sambil menggandeng tangan kanan Mbak AR–. Cuaca mendadak berubah saat kami berdua akan menyeberang jalan menuju tempat parkir motor, dan seolah-olah kaki saya terangkat beberapa sentimeter dari tanah karena embusan angin awal musim basah. Perubahan cuaca dadakan itu menggelapkan awan dan irisan biru langit semakin pudar menjadi perunggu yang kusam. Dan kemudian Kegelisahan brengsek itu datang lagi.
Continue reading “#PansLabyrinth: daya untuk mengenyahkan Kegelisahan”