#BanalitasHarian: semacam ulasan singkat

Simpelnya adalah cuma soal apa-apa yang saya nikmati akhir-akhir ini, tidak lebih dan tidak kurang ~ Bacaan: [1] The Searchers, artikel indah yang ditulis oleh Alex Ross dan tayang di The New Yorker, tentang betapa kerennya unit musik bernama Radiohead. “Ed O’Brien, Colin Greenwood, Phil Selway, Thom Yorke, and Jonny Greenwood: combining boyish riddles with …

Continue reading #BanalitasHarian: semacam ulasan singkat

Advertisements

Sanstitre #27

Perempuan berdandan, langit menangis tidak keruan. Mani mencair -- tidak lagi kental, bumi menggeliat nakal. Gunung-gunung kerap mengamuk, anak-anak kehilangan bentuk. Persetubuhan begitu semarak, laut saling dekap tidak berjarak. Hawa membumi basah, Adam tidak sudi pisah. Tanah-tanah merata, buku-buku tidak terbaca. Waktu tidak lagi bersahaja, awan pun berjelaga. Mengapa setiap malam kita selalu gelisah, meski …

Continue reading Sanstitre #27

Pecah seperti cangkir kopi yang jatuh dari meja makan — dan pagi bakal merapikanmu kembali…

Padamkan lampu kamar tidurmu kenakan kacamata hitam itu pejamkan matamu biar gelap menjadi lebih hitam lebih kelam dari malam ini saatnya menutup diri dari keramaian mengurai keluh, mengistirahatkan lelah kepadamu, aku mungkin bakal datang sebentar lagi dengan sisa kopihitam di pangkal lidah dan aroma rokokputih dalam pendar cahaya lilin kecil mengecupmu, mengajakmu menari menyesap ekstase …

Continue reading Pecah seperti cangkir kopi yang jatuh dari meja makan — dan pagi bakal merapikanmu kembali…

Kepada perempuan yang menyelipkan doa di balik jendela

Saya melihatmu menyimpul luka dengan tatap hitam yang berdiam kelam, mengumpulkan kepak malam di wajah. Ada sayap yang kamu patahkan di sela-sela ikatan karena gema jantungmu terlahir untuk binasa. Pekat sungguh cerdik mendekapmu, menarikmu dalam kesunyian yang rumit, dan mengabadikan diri pada jantung persegi yang pandai memeluk rahasia dengan erat. Utuh cintamu tidak pernah cukup …

Continue reading Kepada perempuan yang menyelipkan doa di balik jendela

Sanstitre #26

Aku mencintaimu, karena seringkali kusesap ranum tubuhmu kamu -- yang tidak bisa kusebut sebagai ibu kamu -- yang tidak bisa kusebut sebagai saudari seibu, namun bukankah kamu lebih dari itu? Kepada semua sapi dan kambing di Bumi aku juga menyayangi mereka layaknya saudara sebab pernah kucampurkan susu ibu mereka ke lipatan roti tawarmu atau pekat …

Continue reading Sanstitre #26

Yang tidak pernah memiliki tidak bakal pernah merasa kehilangan

/1/ Begini saja: Saya bunuh dirimu. Saya bakar jasadmu. Saya minum abumu. Agar tulang-tulang mengeringmu merasuk dalam tubuh saya. Agar bisa menyatu, lalu saya genapi resahmu. Hingga akhirnya menunggu waktumu untuk menjadi kotoran. Agar saya tahu, “yang suci adalah yang hina, dan yang hina adalah yang suci”. /2/ Begini saja: Saya kekang isi kepala dengan …

Continue reading Yang tidak pernah memiliki tidak bakal pernah merasa kehilangan

Tengah malam #3

Sore itu kita bisa saja terbang bersama menyusul senja di mana kita pernah mengira bisa bersama kita bakal mengenang malam-malam sesudahnya bahkan saat kita telah berada di pagi yang sama sekali berbeda rasa. Aku merenungi angin dengan penderitaan yang kurayakan bersama kembalinya senja di pelataran aku mengira kita bakal bertemu kembali setiap malam di jalanan …

Continue reading Tengah malam #3