#PersonalShopper: rasa takut dan erotisme dalam aktivitas berbalas pesan teks

Ponsel-cerdas Maureen Cartwright (Kristen Stewart) — seorang medium yang masih berduka karena kematian saudara kembarnya, Lewis Cartwright, beberapa bulan sebelumnya — menerima sebuah pesan teks misterius dari nomor tidak dikenal: “I know you.” Saat membeli tiket dan kemudian melewati detektor keamanan di stasiun Paris, Prancis, Maureen menerima pesan teks misterius selanjutnya: “And you know me… You’re off to London.” Ketika Maureen membalas pesan teks misterius itu, menuntut agar si pengirim anonim tersebut mengungkapkan identitas asli, Maureen mendapatkan jawaban ambigu: “Have a guess.” Syahdan dimulailah urutan adegan ciamik selama 20 menitan di bagian pertengahan film Personal Shopper: dalam perjalanan PP (pergi-pulang) Paris-London, Maureen terlibat serangkaian aktivitas bertukar pesan teks yang tidak nyaman dengan sosok awanama yang misterius. Sutradara dan penulis naskah skenario filmnya, Olivier Assayas, membingkai urutan adegan tersebut dari sudut pandang Maureen dengan teknik shot reverse shot untuk kasih-tampil ruang yang sama antara reaksi Maureen dan pesan teks di ponsel-cerdasnya. Assayas berhasil mencapai fokus utama pada respons afektif Maureen melalui cara mempertahankan kedekatan intim penonton dengan Maureen.
Continue reading “#PersonalShopper: rasa takut dan erotisme dalam aktivitas berbalas pesan teks”

Advertisements

Semoga kebahagiaan panjang umur #2

Pada bulan Juni kemarin, kalau tidak salah jelang pertandingan pertama babak 16 besar Piala Dunia Perempuan 2019, saya mendapat kiriman sebuah video jenaka yang dibagi melalui pesan WhatsApp oleh Mbak AR– tanpa keterangan apa pun. Video jenaka berdurasi sekitar tiga menit itu kasih-tayang seorang lelaki terusik saat berasyik-masyuk menonton siaran pertandingan sepakbola di layar televisi. Perhatian khidmat si lelaki itu terganggu oleh keusilan temannya yang memegang pengendali jarak jauh (remote control) dan seringkali tiba-tiba mengganti saluran (channel) televisi dari tempat persembunyiannya. Tayangan penuh keisengan itu berakhir dengan si lelaki murka dan membanting televisi sambil menyumpah-serapahi apa pun.
Continue reading “Semoga kebahagiaan panjang umur #2”

Merayakan perjuangan perempuan #4: klimaks yang memuaskan, tetapi perlawanan tidak berhenti di sini

#Untuk Ladya Cheryl dan mendiang Kurt Vonnegut … serta Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta, Rose Lavelle, dan Mama.

Nyanyian itu pada awalnya terdengar samar-samar, menggelegak dari tribune utara Parc Olympique Lyonnais di pinggiran Kota Lyon, Prancis. Pengeras suara rombeng di kandang kontrakan saya bersusah-payah membunyikan apa-apa yang dilantunkan sampai akhirnya, dengan perlahan-lahan namun terdengar megah, nyanyian itu semakin keras. Segera setelahnya, Parc Olympique Lyonnais (dan kandang saya) dipenuhi oleh nyanyian yang memekakkan kuping kiri-kanan saya.
Continue reading “Merayakan perjuangan perempuan #4: klimaks yang memuaskan, tetapi perlawanan tidak berhenti di sini”

Thom Yorke: “Anima” (2019)

Sampul album “Anima”. (gambar: “Wikipedia”)

Awal bulan Juni kemarin, sebuah iklan aneh dari ANIMA Technologies muncul di gerbong kereta bawah-tanah London, Inggris. Korporasi tersebut konon telah merancang sesuatu yang disebut “Dream Camera”, sebentuk perangkat teknologi yang mampu memotret dan menjerat dunia bawah-sadar: “Just call or text the number and we’ll get your dreams back,” bunyi janji iklan tersebut. Tetapi para penelepon yang penasaran cuma disuguhi pesan suara yang samar, tumpukan kaku dari dokumen legal yang dibacakan oleh suara tipis dan bermanis-manis, yang tampaknya membikin janji “Dream Camera” semakin rancu: sesuatu tentang akhir dan penghentian dari Pengadilan Tertinggi, selonjot pengakuan atas “aktivitas ilegal yang serius dan mencolok”. Cuma ada dua hal yang bisa dikaitkan dengan iklan aneh tersebut: rangkaian promo yang melelahkan untuk episode paling buruk dari serial antologi Black Mirror: Series 5 (2019), atau godaan nakal menyambut perilisan album solo ketiga Thom Yorke yang bertajuk Anima. Impian dan kesangsian yang intens terhadap distopia teknologi sudah lama menjadi pilar penulisan lagu-lagu Yorke dan Radiohead. Kabel-kabel di dalam otak dan kawat-kawat dunia saling silang-sengkarut: pohon plastik penuh kepalsuan, android-android paranoia, kebisingan ponsel-cerdas, serangan panik yang mengintai. Jadi, tentu saja, Sapiens yang telah bernyanyi tentang ritme kehidupan urban yang melenakan memang sangat berhasrat untuk membebaskan para penumpang kereta bawah-tanah dari lamunan mereka dengan menawarkan janji sekali-seumur-hidup. Impian, mimpi buruk, dan somnambulisme membayangi formasi lagu di Anima: album solo Yorke yang paling ambisius dan meyakinkan. Anima merupakan kumpulan musik terlembut sekaligus paling gelap yang pernah dirilis oleh Yorke di luar kanon Radiohead, melayang-layang melalui ruang antara monolog internal dan gejolak sosial.
Continue reading “Thom Yorke: “Anima” (2019)”

Mitos Argentina

Membaca buku digital Angels With Dirty Faces: The Footballing History of Argentina tulisan Jonathan Wilson yang bercerita tentang sejarah sepakbola Argentina, saya berujung pada konklusi bahwa dia mengada-ada: narasi tentang segelintir malaikat buruk rupa pujaan orang-orang Argentina, kisah yang menuturkan sekelompok pahlawan — termasuk jagoan-jagoan sepakbola — tidak sempurna yang dielu-elukan oleh publik Argentina, saya selalu berpikir bahwa semua itu cuma tonil rekaan belaka. Orang-orang Argentina terlalu fanatik dengan judul film-film Hollywood, dan Wilson menelannya begitu saja. Saya pikir mitos semacam itu pastilah dirancang untuk membikin bocah cebol, berkepala galon, dan tingkah lakunya badung macam Diego Maradona bisa klop dengan khayalan orang-orang Argentina. Karakter separuh Indian, miskin, bertumbuh-kembang di villa miseria, dan punya keculasan jalanan itu muncul setelah Maradona mampu kasih-pamer sihir sepakbola di atas lapangan hijau, kemudian persona semacam itu dijadikan teori, dan diamini sendiri oleh masyarakat Argentina secara membabi-buta.
Continue reading “Mitos Argentina”

root@imajinasijoker:~$ sudo shutdown -h now…

Pertengahan 2018 yang berangin dan dinginnya sungguh jahanam, saya mencapai titik terendah dalam kehidupan sosial di dunia maya: melakoni pelesir Twitter dan Facebook tanpa henti selama tiga hari. Saya tidak ingat apa-apa yang menyebabkan pelesir itu terjadi, tetapi saya masih bisa ingat bagaimana hal itu berakhir. Saya terbangun dengan rasa was-was dan jantung yang berdebar kencang, dan berpikir saya bakal tiba-tiba mati beberapa menit ke depan. Saya menyadari, saya kudu menyetop intensitas memeriksa linimasa Twitter dan Facebooksaya mesti mulai belajar mencintai diri saya sendiri tanpa dua hal terkutuk itu. Sejak hari itu, pada pertengahan 2018 yang berangin dan dinginnya sungguh jahanam, saya berhenti main-main di Twitter dan Facebook sekaligus.
Continue reading “root@imajinasijoker:~$ sudo shutdown -h now…”

#LeaveNoTrace: melacak setiap langkah Thomasin McKenzie menuju kemandirian

Penampilan Thomasin McKenzie memerankan karakter Tom di karya sinematik-manis Leave No Trace garapan Debra Granik menginsafi secara indah proses kemenjadian: taklik demi taklik, dia bertransformasi dari seorang gadis remaja menjadi perempuan dewasa. Tom bertumbuh-kembang dalam keadaan yang tidak biasa, tinggal nomad di hutan bersama ayah kandungnya, veteran perang bernama Will (Ben Foster). Selain itu, film ini juga melacak proses separasi orangtua-anak yang mungkin saja sama-sama pernah kita — saya dan kamu — alami. Saat Tom mulai terekspos ke dunia di luar orbit ayahnya, McKenzie kasih-tunjuk bagaimana proses Tom bertumbuh-kembang: mempelajari keterampilan sosial, mendapatkan kepercayaan diri, dan tumbuh semakin jauh dari ayahnya sebagai hasil dari itu semua.
Continue reading “#LeaveNoTrace: melacak setiap langkah Thomasin McKenzie menuju kemandirian”